Guru-Pendidikan · Motivasi · Tulisan Populer

Guru Merupakan Khalifah di Dunia Pendidikan

Berbicara tentang pendidikan, maka guru merupakan pemegang peran yang amat sentral. Guru adalah jantungnya pendidikan. Tanpa denyut dan peran aktif guru, kebijakan pembaruan pendidikan secanggih apa pun tetap akan sia-sia. Sebagus apa pun dan semodern apa pun sebuah kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru yang berkualitas, maka tidak ada gunanya. Buktinya, pendidikan kita sudah berkali-kali melakukan pergantian kurikulum, namun ternyata
tidak dapat membawa perubahan mendasar dalam peningkatan mutu pendidikan.

Bagaimana Mutu Guru Indonesia ?
Pendidikan di Indonesia untuk menjadi lebih baik perlu diadakan revolusi yang sangat mendasar baik dari jajaran manajemen (dinas, kepala sekolah, dll) maupun guru dimana sebagai ujung tombaknya adalah guru. Hal yang penting dalam pendekatannya adalah melalui penguatan mentalitas.
Sekarang banyak sekali melihat kejadian-kejadian yang “miris” (prihatin) dimana yang terjadi tidak sesuai dengan visi-misi dari pendidikan itu sendiri. Contoh ada sebuah sistem yang baik seperti model ujian nasional dan sertifikasi guru tapi karena mental yang kurang bagus hingga terjadi pemanfaatan untuk kepentingan yang sesaat, bukan untuk tujuan peningkatan kualitas pendidikan dimasa yang akan datang.
Jadi, kalau dilihat dari fasilitas untuk meningkatkan mutu guru sudah sangat memadai tetapi belum optimal bagi pribadi-pribadi guru karena penggunaan fasilitas itu untuk kepentingan jangka pendek.

Bagaimana kriteria guru yang ideal?
Guru adalah ujung tombak pendidikan. Pengertian guru adalah orang yang bisa memfasilitasi (fasilitator) model pembelajaran dan menginspirasi siswa itu sendiri. Guru kita saat ini masih banyak menjalankan fungsinya sebagai pekerja yang tugasnya memindahkan pengetahuan dari kepalanya kepada kepala siswa, padahal ilmu itu sesuatu yang terhujam dalam hati siswa. Jadi, ada satu tools yang terputus dalam proses pengajaran guru yaitu saluran yang menghidupkan otak siswa dengan hatinya.

Seorang guru selain memberi pengetahuan tersebut juga harus memberi nilai-nilai (moralitas, mentalitas, dan spiritualitas) sehingga bila itu dilakukan oleh guru, berarti dia telah mengaktifkan seluruh potensi kecerdasaan manusia yaitu panca indra akal (otak kiri-otak kanan) dan hati atau lebih sering dinamakan dengan IQ, EQ, dan SQ secara sinergis dan bekesinambungan. Sehingga tidak hanya memberi ilmu tetapi juga memberi ketauladanan.

Bagaimana meningkatkan mutu guru?
Dalam peningkatan kualitas guru, sangat dibutuhkan yaitu:

Pertama, perubahan paradigma mengajar, yaitu guru yang tidak hanya memandang keberadaan dirinya sebagai sebuah jabatan yang pengajarannya hanya sebagai tuntutan kewajiban saja tapi juga memiliki sikap profesional, kepemilikan dan visi yang jelas terhadap hidup dan dunia pengajarannya.
Dalam istilah lain saya menyebutnya sebagai guru kaya. Guru kaya senantiasa
berkata, ‘Murid dan pengajaran merupakan kekayaan hakiki’; ‘carilah ilmu karena ia membuat hatimu bercahaya’; ‘Mendengarlah dengan mata dan hati’; ‘Jadikan pendidikan sebagai tabungan masa depan paling berharga’.

Kedua, memahami motivasi, perilaku dan gaya belajar siswa. Motivasi, perilaku dan gaya belajar setiap siswa adalah berbeda-beda. Pemahaman guru mengenai ketiga tersebuttentu akan memudahkan guru dalam menghadapi siswa untuk bisa mempengaruhi siswa sesuai dengan yang kita inginkan tanpa harus membuat siswa sebagai objek pendidikan.

Ketiga,tehnik mengajar yang fokus pada perilaku dan karakter siswa. Guru yang mengajar dengan tehnik sesuai dengan perilaku dan karakter siswa akan memudahkan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. Siswa bisa focus dalam pemanfaatan keunggulan dan potensi yang dimilikinya untuk dikembangkan dalam dunia belajarnya.

Keempat kemampuan guru mengajar dengan energi spiritual (cahaya hati). Hal ini seperti bintang, dalam belajar ia sudah mengkapitalisasikan fungsi panca indra, otak, intuisi dan hati. Ilmu yang diperoleh seperti mata air meskipun dimusim kemarau airnya tetap ada kapan pun dibutuhkan.
Guru yang memiliki cahaya hati adalah seorang guru yang keberadaannya mendapat pengakuan kuat dari murid dan lingkungan sekitarnya. Keberadaannya memiliki cahaya yang kuat bagi orang lain, karena ia selalu mengajar dengan kekuatan cahaya hati.

Sejauh ini peran pemerintah untuk meningkatkan mutu guru bagaimana?
Sudah banyak. Sudah cukup baik dari segi kuantitas, tetapi yang di bangun masih panca indra dan pikiran belum
menyentuh penanaman nilai-nilai pada guru (hati).

Walaupun sudah dilakukan pemerintah dalam peningkatan nilai-nilai spiritualitas tapi masih banyak guru mengikuti dengan kesadaran hati hanya karena keharusan suatu program. Perumpamaannya seperti petani yang ingin dirubah dari mencangkul sawah dengan kerbau menjadi menggunakan mesin traktor. Traktornya dibelikan oleh pemerintah diberi pada petani tetapi petani tidak berubah cara pandangnya terhadap perubahan tersebut sehingga traktornya berdiri di tengah sawah tetapi petani tetap asik membajak dengan kerbaunya. Adanya traktor tapi tidak dibarengi dengan pengetahuannya baik dari cara berpikir maupun cara pandang terhadap suatu perubahan.

Dampak dari anggaran 20 persen dari APBN bagaimana?
Secara praktek dampak ada 2, pertama dampak positif yaitu pemerataan wajib belajar bagi anak-anak Indonesia lebih menyeluruh. Dampak kedua yang bersifat negatif lahir dari sekolah itu sendiri dan para gurunya. Misalnya, guru
kehilangan keuntungan dari penjualan buku. Dari sekolah terjadi pembedaan sisi kualitas sekolah secara psikologis
antara sekolah gratis dengan sekolah non gratis. Dampak negatif ini bisa hilang apabila kualitas guru dan cara pandang mengajar berubah dari pekerjaan menjadi profesional. Selain itu, secara teori bagus, hanya masalahnya apakahn20 persen itu jatuh ke tempat yang di peruntukkannya. Kalo memang tepat pasti maju pendidikan di Indonesia, tapi amanah dari 20 psern ini masih di pertanyakan. Niat sekolah gratis tidak diiringi sampai pada peruntukannya.

Apa yang harus guru lakukan untuk meningkatkan kualitas diri?
Yaitu dengan merubah cara pandang, menguatkan keyakinan diri dan menjadikan guru professional sebagai fungsi kekhalifahan diri di dunia pendidikan.

Bagaimana hubungan mutu guru dengan mutu pendidikan?
Hubungannya linier, semakin baik guru maka mutupendidikan semakin baik. Tetapi guru yang bermutu disini adalah guru yang meningkatkan intelektualitas, emosional, dan spiritualitas guru, maka bila ketiga hal ini baik maka mutu pendidikan akan semakin baik. Bila hanya mutu intelektualitas saja maka tidak akan berkembang dengan baik mutu pendidikan, karena guru yang berintelektualitas tetapi tidak dibarengi dengan kualitas EQ dan SQ maka harapan peningkatan yang signifikan kurang dirasakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s