Hikmah · Kisah

Masjid Ramah Anak

Bulan maret 2016 lalu saya diamanahi untuk jadi salah satu pengurus masjid Alfurqon di perumahan Pakuan Regency Bogor Barat.. salah satu hal yang menarik saat rapat pengurus adalah membicarakan aturan ibadah di masjid.. salah satunya adalah keberadaan anak-anak di masjid. Bolehkah anak-anak main di masjid?

Hal ini mengganggu pikiran saya! Dengan kasus ini sy teringat sebuah peristiwa bbrpa tahun lalu. Ketika itu saya membawa putra bungsu sy u shalat jumat disebuah masjid. Putra saya yang baru berusia 4 tahun ini memang tergolong anak extrovert. Dia tidak bisa diam dan selalu berbicara atau melakukan sesuatu. Saat shalat jumat kala itu anak sy karena baru dan lagi senang2nya baca jus Amma.. saat shalat dia baca sendiri tanpa mengikuti atau mendengarkan khatib dan imam saat shalat.

Tanpa terduga oleh saya.. selesai shalat sebagian besar mata menatap ke saya. Bahkan ada seorang bapak muda mendatangi saya dan mengatakan bapak anaknya jangan dibawa kemasjid.. berisik dan mengganggu orang lain yg shalat..

Peristiwa  ini sempat membuat sy rada bingung.. justru saya sedang proses membuat anak sy mencintai masjid dengan sering mengajaknya.. tetapi justru lingkungan membuat saya tak mampu berbuat lebih leluasa..

Tetapi ada sebuah pengalaman lain yg terjawab disaat saya bertanya pada Allah harus bagaimana saya memperlakukan putra saya kalo lagi sedang dimasjid.. apakah sy harus keras dan memarahinya kalo dia ribut? Peristiwa ini terjadi kala saya shalat jumat di masjdil haram saat umroh. Saat itu tidak jauh dari shaf saya datang seorang bapak dengan dua orang anaknya yg berusia 3 dan 5 tahun.

Sepanjang waktu kutbah anak2 tersebut asik bermain dan ayahnya membiarkan saja.. sy juga perhatikan orang2 sekitarnya tidak ada yg merasa terganggu.  Mereka terkadang tersenyum dengan anak2 tsb sambil terus menyimak khutbah yg disampaikan.

Peristiwa ini membawa sy untuk berpikir ulang.. saat sekarang sy menjadi pengurus masjid bgm keberpihakan sy terhadap kasus2 spt ini.. sy akan membuat aturan yg melarang anak2 ada dimasjid atau memberikan ruang kepada mereka dengan dunia mainnya.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi betapa kadang anak-anak kehadirannya tidak begitu diharapkan di dalam masjid.  Anak-anak dianggap pengganggu kekhusyukan dalam beribadah. Sehingga bahkan ada masjid yg terang-terangan menulis larangan anak masuk masjid. Bahkan ada orang dewasa yang tak segan-segan menghardik dan mengancam mereka jika bermain dan bercanda. Masjid pun menjadi tempat menyeramkan

Kalo keadaan seperti ini anak-anak pun akan mencari tempat alternatif hiburan. Pilihannya playstation dan game online. Permainan menyenangkan. Penjaganya pun menyambut ramah.  Akhirnya pihak masjid pun susah mencari kader remaja masjid. Banyak remaja yg menolak, sebab waktu kecil selalu dimusuhi saat di masjid.

Saya kemudian berpendapat bahwa masjid harus menjadi pilihan anak-anak karenanya mereka berhak bermain disana seperti orang dewasa berhak melaksanakan ibadah disana. Masjid harus menjadi tempat yang ramah bagi dunia anak2. Jika tidak entah bagaimana dimasa yang akan datang.. kaki mereka tidak terbiasa dimasjid.. dan akan membuat sulit membangun langkah kesana disaat dewasa. Masjid menjadi tempat terjauh bagi generasi muda dimasa akan datang.

Keputusan ini semoga menjadi bagian sejarah yg kelak orang2 tidak bertanya dan bersedih mengapa masjid2 jadi sepi dari jamaah para generasi muda.  Masjid ramah anak merupakan pengamalan Asmaul Husna maha Rahman dan Rahim. Allah itu maha lembut tidak suka memghukum kecuali pada orang kafir dan mempersekutukan Allah.

Sungguh indah saat rasul membawa cucunya, hasan dan husain ke masjid. Digembirakan mereka dengan digendong seraya bermain di masjid.  Demi memuaskan husain bermain di masjid, Rasul melamakan sujudnya agar ia puas menungganginya. Kisah-kisah Rasul yang memuliakan anak di masjid mungkin jarang terdengar atau sengaja dilupakan sebagian orang. Padahal mereka mengaku pencinta rasul

Alhamdulillah setelah banyak dialog dengan pengurus masjid yang melarang anak-anak, akhirnya ada juga yang tercerahkan meski awalnya marah-marah.  Bahkan ada yang berinisiatif membuat area bermain bagi anak-anak serta menyediakan pampers bagi mereka

Biarlah anak betah bermain di masjid daripada memilih bermaih di tempat lain yang menjauhkan mereka dari agama. Jika sudah merasa nyaman di masjid. Barulah buat peraturan. Kapan harus bermain dan kapan harus ibadah. Mereka tentu bisa menerima

Indahnya jika kita lihat anak-anak saat waktu luang, izin ke ortunya untuk pergi ke mesjid. Berlama-lama disana. Masjid pun menjadi ramai dan bergairah. Tidak angker dan menakutkan bagi anak2.

Mereka semua hatinya terpaut dengan Masjid. InsyaAllah..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s