Guru-Pendidikan

GURU HUMANIS DALAM KONSEPSI PINANDITA SATRIA KI HAJAR DEWANTARA

amir-tengku-ramlyOleh Amir Tengku Ramly
Pendidikan humanis mungkin tidak lagi terasa asing ditelinga kita sejak terjadinya reformasi kepemimpinan di Indonesia. Istilah yang sudah digunakan sangat lama oleh pakar psikologi humanistic seperti Abraham Maslow, Cart Roger dan pakar psikologi humanistic lainnya, menjadi sangat berkesan saat digunakan oleh Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of Opressed, penguin books, 1978; edisi Indonesia diterbitkan oleh LP3ES, 1985), dan Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan (Cultural Action for Freedom, Penguin Books, 1977).
Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan selayaknya memanusiakan manusia (humanisasi), tetapi yang terjadi justru dehumanisasi yang bersifat ‘nekrofili’, yakni kecintaan kepada jiwa yang kering tanpa makna. Menurut Freire cita-cita pendidikan yang paling luhur adalah bagaimana menjadikan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya, yakni manusia yang menyadari dirinya sebagai pelaku aktif, penentu masa depan dan bertanggungjawab terhadap segala peristiwa diri dalam keseluruhan peristiwa kehidupan. Freire mengistilahkan konsep pendidikan yang bermuara pada dehumanisasi dengan sebutan ‘banking concept education’. Seperti halnya tabungan di bank, maka begitulah guru memperlakukan peserta didiknya dengan tabungan-tabungan pengetahuan, yang pada saat ulangan atau ujian akan ditarik kembali oleh si guru.
Saya menggunakan istilah guru humanis tatkala setahun lalu diminta oleh Lazuardi Birru untuk menjadi pembicara pada workshop guru-guru agama tingkat SMA sejabotabek. Istilah guru humanis menjadi alternative judul pada workshop kepedulian anak bangsa menyelamatkan generasi muda dari radikalisme dan terorisme. Karena berdasarkan data dan survey Lazuardi Birru, generasi muda (pelajar-mahasiswa) merupakan sosok yang mudah sekali terjerembab dalam konsep perjuangan ‘radikalisme dan terorisme’ tersebut. Karena pendidikan tidak boleh menyuguhkan kalimat-kalimat pengajaran yang ‘negatif’ dan berernergi rendah maka saya kemudian menggunakan istilah guru humanis.
Dari bacaan-bacaan yang saya temukan pada berbagai blog di ineternet tentang pendidikan humanis dan konsep pendidikan yang dicetuskan oleh bapak Pendidikan Indonesia Kihajar Dewantara, saya menemukan benang merah yang sangat erat hubungannya.
Saya menyimpulkan bahwa menurut Kihajar dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia, yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis).
Ki Hajar Dewantara juga berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.
Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).
Keinginan yang kuat dari Ki Hajar Dewantara untuk generasi bangsa ini dan mengingat pentingnya guru yang memiliki kelimpahan mentalitas, moralitas dan spiritualitas. Beliau sendiri untuk kepentingan mendidik, meneladani dan pendidikan generasi bangsa ini telah mengubah nama dari ningratnya sebagai Raden Mas soewardi Suryaningrat menjadi Ki hajar dewantara. Menurut tulisan Theo Riyanto (2003), perubahan nama tersebut dapat dimaknai bahwa beliau ingin menunjukkan perubahan sikap ningratnya menjadi pendidik, yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan Negara ini. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan spiritualitas, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Yang utama sebagai pendidik adalah fungsinya sebagai model keteladanan dan sebagai fasilitator kelas.
Menurut Undang-undang no 14 tahun 2005 dan PP no 19 seorang guru harus professional dan setidaknya memiliki 4 kompetensi dasar dalam keprofesiannya yaitu: kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi social dan kompetensi professional.
Kompetensi paedagogik diartikan sebagai kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi kepribadian diartikan sebagai kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa. Menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhak mulia.
Kompetensi social diartikan sebagai kemampuan pendidik dalam membangun hubungan sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Kompetensi professional diartikan sebagai kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan.
Keempat kompetensi diatas juga diatur dalam UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
Guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki syarat-syarat kepribadian dan kemampuan teknis sebagai guru yang tercakup dalam 10 kompetensi guru, yaitu:
1. Menguasai landasan-landasan pendidikan
2. Menguasai bahan pelajaran
3. Kemampuan mengelola kelas
4. Kemampuan mengelola program belajar mengajar
5. Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar
6. Kemampuan menggunakan media/sumber belajar
7. Menilai hasil belajar siswa
8. Memahami prinsip-prinsip dan hasil-hasil penelitian untuk keperluan mengajar
9. Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan
10. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan
Untuk mencapai kompetensi tersebut seorang guru Pinandita Satria harus menanggalkan status sosialnya yang membuat sang murid membuat jarak. Maka sikap mental Pinandita Satria adalah sikap mental yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan, kemanusiaan dan rasa keadilan diantara para guru dan peserta didik. Nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.
Berdasarkan konsep pinandita satria ki hajar dewantara, maka guru adalah seorang khalifah didunia pendidikan, tentara Allah mewujudkan kehendak-Nya yang Maha berilmu, maha kaya dan maha berkehendak untuk kebaikan Ummat-Nya. Allah tidak suka pada kaum yang lemah, tidak berilmu dan bodoh. Allah melalui nabi-nabinya mengajarkan kebaikan, ilmu sebagai cahaya penerang bagi manusia. Pendidikan haruslah memanusiakan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kebodohan kepada keberdayaan diri. Maka tugas guru sebagai pinandita satria adalah mengajar dalam kemerdekaan individu, kebebasan dan humanisasi.
Konsepsi pendidikan pinandita satria kihajar dewantara adalah sebagai berikut:
1. Guru harus memiliki panggilan jiwa sebagai pinandita satria dalam mengajar
2. Memiliki kekuatan mentalitas, moralitas dan spiritualitas diri
3. Mengajar dengan sentuhan cipta, karsa dan karya
4. Mengajar dengan memberdayakan hati-otak dan fisik
Dengan konsepsi demikian, maka sebenarnya bangsa Indonesia sejak awal merdekanya sudah merancang system pendidikan humanis bagi warganegaranya. Apa yang menyebabkan kita melenceng dalam penyelenggaraan pendidikan saat ini, lebih disebabkan ketidakkonsistenan yang bersifat sustainable kita dalam pelaksanaan pendidikan itu sendiri.
Perlu Gerakan Humanisasi
Dalam gerakan humanisasi melihat bahwa jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Inilah fitra manusia sejati yang kini tengah dipelopori ‘pahlawan tanpa jasa. Fitrah manusia sejati dalam proses pendidikan adalah menajdi pelaku atau subjek pembangunan bukan penderita atau objek pembangunan. Panggilan gerakan humanisasi sebagai keharusan dari pendidikan yang diperolehnya adalah menjadi pelaku yang sadar yang bertindak mengatasi serta menyadari realitas yang terjadi kepada keharusan sejarah. Gerakan humanisasi akan melahirkan ‘biofili’ yakni kecintaan pada segala yang memiliki kehidupan atau maknawiyah.
Sistem pendidikan dalam konteks ‘humanisasi’ yang harus dikembangkan adalah pendidikan untuk pembebasan bukan untuk penguasaan (dominasi keinginan seseorang terhadap orang lain). Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan hak intelektual manusia bukan penjinakan sosial budaya masyarakat. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia, dan karena itu secara metodologis proses pendidikan harus bertumpu diatas prinsip-prinsip akasi dan refleksi total. Diman prinsip-prinsip ini bertindak untuk merubah kenyataan kehidupan masyarakat minoritas yang pada sisi simultan lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan dari ketidakadilan menjadi kehidupan yang berkeadilan. Dari tidak demokratis menjadi kehidupan yang demokratis dan dari kekuasaan absolut penuh KKN menjadi kekuasaan yang demokratis yang bebas dari KKN.
Soekarno presiden pertama RI, dalam tulisannya ‘menjadi guru dizaman kebangunan’ mengatakan ‘guru dimasa kebangunan haruslah guru yang mampu mengisi jiwa murid-muridnya dengan roh rajawali’, yakni guru yang menghidupkan ‘biofili’ muridnya sehingga mengerti akan jiwa kehidupan dan berani bertindak atas nama kebenaran dan pembelaan terhadap rakyat kecil.

Membaca, mengingat dan merenungkan kembali pemikiran Bung Karno, sebenarnya bangsa Indonesia memiliki harapan besar dalam menggapai Indonesia baru, tetapi kekayaan intelektual ini tidak pernah kita jadikan semangat bagi kemajuan bangsa kita. Melalui terobosan yang dilakukan para guru di era reformasi ini, mudah-mudahan menjadi kita, penguasa untuk mereviu kembali akan hakekat pendidikan yang selama ini kita terapkan.
Peran guru dalam gerakan humanisasi pendidikan sangatlah menentukan. Bukan sekadar tuntutan keadilan terhadap sistem pendidikan tetapi juga harus mampu menjadi subjek dari gerakan humanisasi itu sendiri. Menjadi guru yang sebenarnya, juga bukan sesuatu yang mudah. Ini membutuhkan ‘pencerahan’ jiwa guru itu sendiri. Membangun manusia-manusia prestatif, membutuhkan pendidik yang prestatif. Jadi secara eksternal guru sudah menerobos dinding pembaharuan dengan berbagai tuntutan keadilannya, tetapi secara internal guru sudah harus mempersiapkan diri. Jika tidak keharusan sejarah akan menjadi batu sandungan bagi guru itu sendiri. Jadilah guru yang efektif yang mampu memberi dan menerima secara berkeadilan

Amir Tengku Ramly,
• Motivator Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia
• Master Trainer PLC Indonesia
• Email: amir_tengku@yahoo.co.id/hp:08128221491

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s