Manajemen Leadership

KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL DALAM BUDAYA dan ETIKA MASYARAKAT INDONESIA Tinjauan Epistemologis Praktek Kepemimpinan Muhammad Yusuf Kalla (MJK)

wisdom-1Final Paper: Teori Organisasi / Dr. Sukiswo Dirdjosuparto, Oleh: Amir Tengku Ramly/ H25.1110.121. Ilmu Manajemen. Program Pasca Sarjana. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
2011

Pendahuluan
Krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis ekonomi, energy, kesehatan, transportasi dan air. Karena dengan absen pemimpin yang visioner, kompeten dan memiliki integrias yang tinggi maka masalah air, konversi hutan, kesehatan, pendidikan, system peradilan, dan transportasi akan semakin parah (Antonio, 2007).
Menurut Antonio (2007) dalam masalah moral Indonesia menempati posisi yang sangat memprihatinkan. Tidak ada satu negarapun di dunia dimana media cetak dan audio visual yang mengumbar pornografi dan pornoaksi seperti majalah porno, tabloid-tabloid erotis dan VCD-DVD hardcore bisa dibeli oleh anak SD dan dijajakan di lampu-lampu merah. Khusus masalah korupsi, kebocoran anggaran dan pelaksanaan pembangunan ternyata lebih parah dari masa orde baru. Jika dahulu korupsi terkonsentrasi di pemerintah pusat, kini menjadi tersebar merata di semua lapisan birokrasi, baik dalam tugasnya melaksanakan pembangunan berbasis APBN/APBD demikian juga dalam hubungannya dengan pengusaha swasta. Yang lebih memprihatinkan adalah korupsi yang dilakukan oleh oknum penegak keadilan yang sejatinya bertugas memberantas korupsi seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan (Antonio, 2007).
Melihat kondisi demikian, kemungkinan memperbaiki kondisi Indonesia dimasa mendatang dibawah sistem manajemen dan kepemimpinan nasional hari ini (pewarisan ORBA) menjadi semakin sulit. Banyak pengamat menyangsikan, bahwa perjuangan partai politik nasional melalui konsep dan kepemimpinan hari ini tidak akan memberikan banyak harapan perubahan. Sistem kepemimpinan orde baru hingga kini berjalan dengan konsep dan manajemen menang-kalah: partaiku menang, partai mu kalah (Iam ok, you are not ok). Aku akan bisa memimpin bila kelompok mu kalah.
Jika kita mengidentikkan mengurus negara setidaknya mendekati atau semisal mengurus perusahaan/organisasi, maka kualitas kepemimpinan harus jadi pilihan dan perhatian utama dalam manajemen organisasi. Kualitas telah menjadi pondasi organisasi terkenal dan menjadi idaman untuk seluruh generasi pemimpin (manajer) organisasi yang ada. Menurut ALRIES (1996) dalam suatu survei, sebanyak 80 % dari manajer organisasi terkemuka dunia berpendapat bahwa kualitas kepemimpinan akan menjadi sumber fundamental keunggulan bersaing di abad 21.
Ketika 455 pemimpin senior di organisasi-organisasi terkemuka di tanya apa yang menjadi faktor utama keberhasilan bersaing? “kualitas kepemimpinan” merupakan jawaban yang menduduki rangking pertama. Sebesar 87 % menempatkan kualitas sebagai faktor terpenting keberhasilan organisasi mereka. Banyak buku, artikel, dan pidato mengenai kualitas membanjiri toko buku, majalah dan panggung politik dan bisnis negara-negara maju dunia. Ada lima rak buku mengenai kualitas, dengan lebih seratus judul yang berbeda di Powell’s City of Books di Portland Oregon. Bahkan dalam 5 tahun terakhir, 1.777 artikel mengenai kualitas telah di publikasikan di majalah dan koran utama.
Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, kompetensi dan compassionate untuk kemajuan bangsanya. Kita merindukan sosok pemimpin seperti sosok Bung Karno. Pemimpin yang cerdas, jujur dan rela berkorban untuk kemajuan bangsa. Masih adakah sosok demikian?
Mungkin kita sempat bangga dengan sosok MJK (Muhammad Yusuf Kalla) saat beliau menjadi wakil presiden. Banyak terobosan dan pemikiran yang membanggakan bangsa. Belau dalam banyak pengamatan para ahli menerapkan kepemimpinan tranformasional, sebuah model kepemimpinan modern. Tetapi mengapa beliau tidak mampu menjadi presiden? Tidak kompetenkah? Atau budaya masyarakat Indonesia yang tidak siap dengan kepemimpinan ala MJK? Kalau dilihat dari sejarah pemimpin seperti Soekarno usia kepemimpinannya juga tidak lama. Tetapi gaya kepemimpinan Soeharto justru yang paling lama diterima oleh masyarakat?
Makalah ringkas ini mencoba menganalisa secara epistemologis mengapa gaya kepemimpinan MJK tidak bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Tidak diterima dengan menggunakan asumsi beliau tidak terpilih menjadi presiden saat itu.

Kepemimpinan
Menurut Sukisno (2011) Hakekat kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi ‘kelompok’ mencapai sasaran, sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain sehingga bersedia berjuang untuk aspirasi bersama.
Menurut Wikipedia (2011) Kepemimpinan adalah “mengorganisir sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama”. Pemimpin mungkin atau tidak mungkin memiliki kekuasaan formal. Pencarian untuk karakteristik atau ciri-ciri pemimpin telah berlangsung selama berabad-abad. Tulisan-tulisan terbesar sejarah filosofis dari Plato Republik untuk Plutarch yang Hidup telah meneliti pertanyaan “Apa yang membedakan kualitas individu sebagai seorang pemimpin?”.
Jika kita bercermin pada keteladanan Nabi Muhammad SAW. Maka kepemimpinan beliau fondasinya adalah akhlak yang mulia. Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW diakui oleh masyarakat mekah dengan menggelari beliau sebagai Al-Amin. Menurut Antonio (2007) Keluhuran akhlak inilah yang menjadi salah satu factor kesuksesan beliau baik sebagai pribadi, pemimpin keluarga, bisnis, dan masyarakat.
John Kotter dari Harvard Business School dalam Robin (2008) mengatakan bahwa kepemimpinan sangat terkait dengan perubahan. Pemimpin menentukan arah dengan cara mengembangkan suatu visi masa depan, kemudian mereka menyatukan orang-orang dengan mengkomunikasikan visi dan menginspirasi mereka untuk mengatasi berbagai rintangan.
Menurut Robin (2008) kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan. Sumber pengaruh ini bisa informal atau formal.
Kepemimpinan Tranformasional
Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif. Analisis awal tentang kepemimpinan, dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an, memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin, maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin.

Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif, para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi, variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin.
Bennis dalam Sukiswo (2011) telah meneliti sebanyak 90 pemimpin yang efektif dan sukses di As. Hasil menelitiannya Bennis menemukan 4 kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu:
1. Pemimpin harus memiliki visi yang menarik
2. Pemimpin harus dapat mengkomunikasikan visi secara jelas dan sederhana kepada para pengikutnya
3. Pemimpin harus konsisten dan focus pada pencapaian visi mereka
4. Pemimpin harus menyadari kekuatan yang dimilikinya
Dalam perkembangannya, model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi.
Menurut Sukiswo (2011) kepemimpinan tranformasional harus mampu membawa perubahan pada pengikut dan organisasi. Ciri-cirinya lebih focus pada intangible qualities seperti visi, nilai dan ide, lebih berbasis kepada nilai, keyakinan dan kualitas, mengajak pengikutnya dari kepentingan pribadi kepada kepentingan kelompok (group) dan mampu membangun visi serta mengkomunikasikannya sehingga pengikutnya merasa bahwa pengorbanan tidak sia-sia mencapai visi berharga.
Yammarino dan Bass dalam Robin (2008) menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik, menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Dengan demikian, keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu.

Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “the Four I’s”.
1. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya.
2. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi yang menginspirasi). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme.
3. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
4. Dimensi yang empat disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir.
Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru, beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi, dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi seperti Weber (1947) dan ahli-ahli politik seperti Burns (1978). Menurut Robin (2008) para pemimpin tranformasional lebih efektif karena mampu mendorong para pengikutnya menjadi lebih kreatif pula.

Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda, namun fenomena fenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Bryman dalam Bass (1994) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky dalam Robin (2008) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership).

Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi, yakni dengan jalan memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan.
Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang senantiasa berubah (metanoiac), dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktek organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan.
Pentingnya Kualitas dalam kepemimpinan Tranformasional
Secara epistemologis setidaknya ada 2 paradigma yang berkembang pada kepemimpinan, yaitu: Paradigma lama dan paradigm baru. Ciri-ciri paradigm lama kepemimpinan lebih focus pada ‘stability, control, competition, uninformity, self centered dan bersifat hero. Sedangkan paradigm baru kepemimpinan lebih focus pada ‘change management, empowerment, collaboration, diversity, high purpose dan humble (Sukiswo, 2011).
Majalah training dan the center for creative leadership dalam Robin (2008) mensurvei lebih dari 250 manajer untuk mengidentifikasi berbagai kompetensi kepemimpinan yang mereka anggap paling penting untuk mencapai keberhasilan saat ini.
Hasil survey ini melaporan bahwa 100% menganggap etika, integritas dan nilai merupakan syarat tertinggi dalam kompetensi mereka. Para manajer yakin agar dapat bertindak secara efektif, pemimpin-pemimpin dipuncak organisasi haruslah orang yang dapat memunculkan rasa hormat. Mereka haruslah orang-orang yang dipandang jujur dan layak dipercaya.
Menurut Sukiswo (2011) kepemimpinan bisa dilihat pada personal melalui traits dari pemimpin, yang antara lain:
• Personal characteristics pemimpin seperti intelegensi, kejujuran, percaya diri dan penampilan
• Orang yang terlahir memiliki traits akan menjadi pemimpin secara alami
• Riset memberi indikasi bahwa hubungan antara personal traits dan keberhasilan sebagai pemimpin tidak kuat
• Stogdill’s melakukan refiew 163 traits studies yang dilakukan antara 1948-1970 dan menyimpulkan ada personal traits yang memberi kontribusi terhadap efektifitas kepemimpinan.
Menurut Ramly (1998) Kemungkinan untuk memperbaiki sesuatu dimasa mendatang, dengan tetap mengandalkan sistem manajemen masa kini, banyak dikuatirkan para konsultan kualitas akan mengalami kegagalan. Sebab, sistem manajemen masa kini diterapkan dengan prinsip menang-kalah. Kita membutuhkan suatu transfomasi kualitas menuju pada aktifitas bisnis baru yang diwarnai dengan praktek kepemimpinan menang-menang, dimana setiap pelaku menjadi lebih baik.
Apakah yang menjadi jantung transformasi ? Menurut Edward Deming dalam Ramly AT (1998), jantung transformasi adalah penyerahan daya motivasi intrinsik, yakni dengan menciptakan kegembiraan, kebanggaan, kebahagiaan pada pekerjaan; kegembiraan dan kebanggan pada usaha belajar. Deming memperkirakan di era sekarang ini hanya ada 2 dari setiap 100 orang dalam manajemen yang merasa gembira pada pekerjaan mereka. Ke-98 yang lain merasa tertekan, bukan karena pekerjaan atau kelebihan pekerjaan, melainkan karena pekerjaan yang tidak produktif, berperang dalam pengambil-alihan dan sebagainya. Sebagian besar dari 98 orang ini mengarahkan pandangan pada peringkat yang baik dan tidak berani menyumbangkan inovasi pada pekerjaan mereka.
Muhammad Yusuf kalla Sosok Pemimpin Tranformasional
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (lahir di Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942; umur 69 tahun), atau sering ditulis Jusuf Kalla saja atau JK, adalah mantan Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada 2004 – 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama. JK menjadi capres yang gagal bersama Wiranto dalam Pilpres 2009 yang diusung Golkar dan Hanura.
Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.
Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan kemenangan yang diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI yang ke-6, secara otomatis Jusuf Kalla juga berhasil meraih jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang ke-10. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.
Ia menjabat sebagai ketua umum Partai Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan pengamat politik yang kebanyakan bergelar master, doktor, dan profesor.
Saat ini, melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Pada tanggal 10 September 2011, Jusuf Kalla mendapat penganugerahan doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin, Makassar.
Prestasi Jk sejak menjabat menteri sampai wakil presiden terbilang cukup banyak dan membekas di hati rakyat. Kalla membantu memecahkan konflik antar-agama di Poso di pulau asalnya Sulawesi. Kalla memfasilitasi negosiasi, yang membuahkan hasil dengan penandatanganan Malino II pada 20 Desember 2001. Konflik pun berhenti, yang telah berlangsung selama tiga tahun. Dua bulan kemudian, Kalla sekali lagi membantu memecahkan konflik lain di Sulawesi. Pada tanggal 12 Februari 2002, Kalla, bersama dengan Menteri Koordinator Politik dan Masyarakat Susilo Bambang Yudhoyono , berhasil memecahkan konflik serupa di Ambon dan Maluku melalui Deklarasi Malino kedua.
Sifat dan Perilaku kepemimpinan Yusuf Kalla
Sejak terpilihnya sebagai wakil presiden, Muhammad Jusuf Kalla, telah menjadi tokoh sentral dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah inisiatif nya, seperti penanganan pasca-tsunami di Aceh dan dialog antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), telah membuatnya wakil presiden super. Jusuf mengakui bahwa ia membuat keputusan yang cepat karena banyak masalah tidak bisa diatasi dengan mengikuti prosedur.

Memang, keberuntungan tampaknya berada di sisi Jusuf Kalla. Pada tanggal 24 Desember ini Bugis yang kaya (orang-orang dari Sulawesi Selatan) pengusaha terpilih ketua Partai Golkar, partai politik terbesar di parlemen. Hal ini mengubah konfigurasi kekuatan politik. Keprihatinan atas ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh tekanan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) segera lenyap. Jusuf Kalla muncul sebagai sosok penyelamat. Posisinya berkembang semakin kuat.

Jusuf Kalla merupakan salah satu pejabat yang hidup dengan tradisi tukang: dia tanggap, cepat membuat keputusan dan benar-benar un-birokrasi. Namun ia adalah santai dan membuat dirinya sendiri diakses wartawan. Panggilan telepon dan pesan teks dari media hampir selalu dikembalikan. Tidak seperti banyak pejabat senior pemerintah, ia membawa telepon selulernya sendiri. Jika saya mendapatkan panggilan tak terjawab, Yusuf kalla akan meneleponnya kembali (Tempo, 2005)
Dilihat dari berbagai pendapat dan temuan para ahli, mungkin sebagian besar kita berpendapat bahwa Muhammad Yusuf kalla adalah sosok pemimpin yang unik, khas, berani dan cerdas. Beliau adalah sosok pemimpin transformasional.
Semua kepemimpinan bertanggung jawab untuk mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan tindakan, menyelesaikan tugas, atau berperilaku dalam cara tertentu. Para pemimpin yang efektif proses memengaruhi, merangsang perubahan bawahan sikap dan nilai-nilai, meningkatkan keyakinan dan percaya diri para pengikutnya, dan yang lebih penting menumbuhkan internalisasi para pemimpin ‘visi dengan memanfaatkan strategi pemberdayaan’.
Tempo (2011) melaporkan bahwa hanya dalam 1 minggu Jusuf Kalla yang menjadi duta komodo telah berhasil membuat Pulau Komodo masuk 10 besar dalam pemilihan 7 keajaiban dunia baru, yang diselenggarakan oleh New7 wonders. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kualitas kepemimpinan JK.
Gaya kepemimpinan yang simpel dan tidak bertele-tele membuat setiap proses menjadi lancar. Langkah pertama yang cepat dilakukan JK dengan menghubungi Jero Wacik yang saat itu menjadi Menbudpar. Akhirnya Jero yang awalnya tidak percaya pun mendukung, sehingga muncul surat Pariwisata ke Telkomsel karena Telkomsel minta klarifikasi.
Dukungan pun juga datang dari Presiden. Akhirnya ada himbauan dari Presiden untuk SMS. JK sendiri meyakini melalui ajang ini akan ada keuntungan ekonomi yang diraih. Ketika ditanya bagaimana logic JK tentang rencana kesuksesannya terhadap pulao komodo, JK mengatakan bahwa sekarang memang pengunjungnya hanya 100 orang per hari, dulu paling banyak 50 orang per hari, tapi kalau kita berhasil, bisa sampai 1000 per hari. Hotel dibangun. Sekali Komodo menjadi seven wonders, seumur hidup akan dipercaya. Ini cara termurah. Jadi salah satu gunanya agar komodo dijaga. Sekarang ini Ongkos menjaga itu Rp 15 miliar per tahun.
Dalam strateginya JK mampu mengubah dari kampanye komodo menjadi ekonomi dan menurunkan biaya SMS. Operator menganggapnya sebagai CSR. Bahkan dalam melakukan promosi dan iklan JK pun mengklaim tanpa biaya, alias gratis. Hebat memang kepemimpinan JK, tulis majalah Tempo (2005). Dalam sebulan saja dia sudah mampu melakukan banyak perubahan. Bagaimana jika dia diberi kesempatan 5 tahun memimpin Indonesia? Mungkinkah Indonesia jadi lebih baik?
Fahrurozi dalam tempo (2011) berpendapat bahwa selama 5 tahunmenjadi wakil presiden, banyak problem yang menimpa Indonesia, seperti: Bencana Alam, Peristiwa Lumpur Panas Sidoarjo, Krisis Ekonomi dan masih banyak lagi. Nah, selama 5 tahun itu juga kita dapat melihat gaya Jusuf Kalla dalam memimpin bangsa. Setidaknya ada 3 gaya kepemimpinan yang sangat menonjol pada diri JK, yaitu:
1. Tegas
JK adalah sosok yang tegas dalam memimpin. Ia tegas dalam memimpin bangsa demi Rakyat Indonesia. Berbagai kebijakan ia putuskan dan ia terapkan. Selain itu, karena ketegasannya pula, banyak konflik-konflik yang Ia selesaikan. Seperti kita tahu, konflik Poso, Perdamaian GAM. Itu semua adalah hasil dari ketegasan seorang Jusuf Kalla
2. Merakyat
JK juga adalah presiden yang merakyat. Seperti anda lihat gambar disamping JK tengah berada di antara anak-anak yang sedang bermain bola. JK ditengah kunjungan =nya ke beberapa daerah, selalu menyempatkan diri untuk bertemu, menyapa, atau sekedar berbicara dengan rakyatnya. Saya sempat membaca di buku “Pak Kalla dan Presidennya” disana Pak JK mau menyempatkan berfoto bersama dengan Para Mahasiswa. Itulah Pak JK.
3. Humoris
Perlu kita ketahui juga, Pak JK ini adalah pemimpin yang humoris. Ia selalu dapat membuat rakyat tertawa. Pak JK memang seorang yang humoris, terkadang ia selalu menghibur para warga disela-sela kunjungannya. Selain itu, logat dan dialeknya kala berbicara juga membuat banyak orang-orang tertawa. Dialek orang Bugis yang patah-patah dan kental itu terkadang terdengar aneh bagi masyarakat awam yg mendengarnya.
Syafiq B.Assegaff (2010) menuliskan bahwa mantan Wakil Presiden H.Muhammad Jusuf Kalla (JK) tetap disukai banyak orang. JK pernah muncul di depan 400-an pengusaha, professional, bankir, aktivis, politisi dan mahasiswa dalam seminar mengenai kepemimpinan yang berkewira-swastaan (entrepreneurial) dan efektif di Graha Niaga, Jakarta (Tempo, 2005)
Sebagai tokoh fenomenal yang bergaya informal, Muhammad Jusuf Kalla (JK) dikenal cepat tanggap, berani mengambil risiko dan humoris. Ia juga kreatif. Di tangan JK, berbagai keputusan penting bagi bangsa Indonesia telah dibuat (Baswedan, 2010). JK sosok pemimpin tranformasional Indonesia.
Tentang kepemimpinannya ini JK dalam Paramadina.ac.id (2010) mengatakan orang bisa meningkatkan kemampuan leadershipnya melalui empat cara, yaitu: membaca buku, mengikuti kursus, belajar dari role model dan berbagi pengalaman. Yang paling efektif adalah belajar dari role model dan berbagi pengalaman.
Sedangkan beberapa hal yang diperlukan dalam kegiatan seorang pemimpin, menurut JK adalah: Pertama adalah niat baik, kemudian logika atau pengetahuan yang memadai. Lalu harus ada nyali, keberanian. Ada kalanya pemimpin takut, tapi cukup dalam hati saja, tidak boleh kelihatan. Yang terakhir, tapi tidak kalah penting adalah bahwa seorang pemimpin itu harus ikhlas (paramadina.ac.id, 2010)
Baswedan dalam paramadina. Ac.id (2010) mengatakan bahwa ia merasa Indonesia memerlukan pemimpin seperti JK di berbagai bidang yang entrepreneurial dan efektif, cepat merespon tantangan dan berani mengambil risiko serta tanggung-jawab.
Etika dan Budaya Masyarakat Indonesia
Etika berasal dari kata ethos yang berarti karakter atau perilaku seseorang. Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku. Etika menyangkut stadar nilai dan norma moral yang lebih mendasar (sukiswo, 2011).
Menurut Suhardono (2011) etika merupakan olahan secara ilmiah atau filosofis atas moralitas. Objek materi etika adalah kehendak sadar, kebebasan tindakan manusia. Ini merupakan daya-daya pada manusia yang memungkinkannya mengekspresikan kaidah-kaidah. Jadi, tindakan menurut sorotan etika adalah sesuatu yang dilakukan secara bertanggungjawab dan bukan sesuatu yang bersumber pada ketidaktahuan, apalagi keterpaksaan dari pelakunya.
Etiket berbeda dengan etika. Etiket adalah soal sopan santun baik dari segi cara bicara atau bersikap, mungkin ada yang halus ada yang kasar. Misalnya, cara bicaranya kasar, tingkah lakunya tidak sopan. Itu adalah sebuah etiket. Etiket tetap penting dipelajari, namun bukan masuk dalam ranah etika.
Menurut Ronda (2011) adalah bicara soal baik dan buruk atau benar dan salah. Itu sebabnya setiap pemimpin harus mengembangkan etika bagi dirinya dan perlu adanya pedoman etika sebagai pemimpin. Etika akan memberikan kepada pemimpin di tengah-tengah masyarakat yang memiliki nilai yang beragam atau pluralisme moral. Etika juga akan membimbing dan memampukan pemimpin dalam menghadapi persoalan munculnya ilmu teknologi dan pengetahuan.
Di samping memiliki hati nurani yang baik, maka setiap pemimpin wajib memiliki komitmen terhadap etika. Yakni etika yang berfokus kepada manusia dan martabatnya, dan bukan kepada perbuatan apakah sesuai norma atau tidak (etik). Etik seorang pemimpin menekankan kepada perbuatannya, sedangkan etika pemimpin menekankan kepada “Being” manusia yaitu siapakah saya di hadapan Tuhan dan sesama? Bagi pemimpin keduanya sangat penting, pemimpin wajib tahu mana yang benar dan salah, baik dan buruk, tetapi juga perlu mengembangkan watak serta karakter yang penuh pengorbanan, pelayanan, kebaikan.
Sedangkan budaya menurut Wikipedia (2011) adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Menurut Sukisno (2011) budaya adalah pola dari shared basic assumptions (basic beliefs), yang merupakan hakekat budaya yang paling dalam. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. “Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Keberhasilan kepemimpinan seseorang juga sangat dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi dengan etika, etik, perilaku dan budaya masyarakat (rakyat) nya. Inilah hal utama yang menyebabkan kegagalan Muhammad yusuf kalla menjadi presiden Indonesia. Masyarakat sulit dan tidak siap dengan budaya dan perilaku MJK yang egaliter, tegas dan serba ingin cepat.
Kegagalan kepemimpinan Jusuf kalla
dalam Tinjauan Epistemologis Budaya dan Perilaku Masyarakat.
Yusuf kalla telah menerapkan kepemimpinan modern . kepemimpinan modern adalah kepemimpinan tranformasional (Bass, 1994). Lalu mengapa JK tidak berhasil menjadi pemimpin Indonesia secara formal (presiden)? Apa yang menyebabkan JK gagal? Secara epistemologis hal ini sangat dipengaruhi budaya dan perilaku JK dan masyarakat dominan Indonesia.
Epistemologis berasal dari bahasa Yunani ἐπιστήμη (episteme), yang berarti “pengetahuan, ilmu pengetahuan”, dan λόγος ( logos ), yang berarti “studi tentang”) adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dan ruang lingkup (keterbatasan) dari pengetahuan (Wikipedia, 2011)
Dalam filsafat, epistemologi mengacu pada studi tentang sifat, asal, dan batas-batas pengetahuan manusia. Lapangan tersebut kadang-kadang disebut sebagai teori pengetahuan. Epistemologi memiliki sejarah panjang, dimulai dengan Yunani kuno dan terus hingga saat ini.
Epistemologis budaya dan perilaku masyarakat merupakan studi tentang budaya dan perilaku masyarakat yang melahirkan suatu pengetahuan, sikap dan tindakan tententu. Epistemologis budaya dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap kepemimpinan yusuf kalla merupakan cerminan budaya, perilaku masyarakat berdasarkan pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat terhadap sosok kepemimpinan Yusuf Kalla.
Kalau kita asumsikan masyarakat sebagai konsumen yang akan memutuskan pilihannya pada sosok MJK atau SBY maka tentu keputusan tersebut sangat dipengaruhi perilaku masyarakat sebagai konsumen. Menurut Sumarwan (2003) Perilaku konsumen (masyarakat) adalah perilaku yang diperlihatkan masyarakat dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.
Kehebatan dan kepopuleran MJK sangat disukai oleh kalangan masyarakat modern dan berpendidikan tinggi, yang populasinya hanya 20%. Budaya dan perilaku kelompok ini membutuhkan sosok pemimpin seperti Yusuf kalla, Tetapi tidak untuk kalangan menengak kebawah yang, mereka masih terjebak pada sosok yang ber-etiket sopan, kalem dan tidak mengajak mereka untuk berubah tetapi lebih setuju untuk membuat mereka mapan dan dimudahkan dalam berbagai kebutuhannya. Masyarakat inilah yang masih mendominasi di Indonesia (hingga 80%).
Menurut Robin (2008) para pemimpin harus menyesuaikan gaya mereka dengan budaya nasional yang berbeda. Apa yang bisa berhasil di AS, misalnya, tidak selalu berhasil seratus persen di perancis atau Indonesia. Fred Hasan dalam Robin (2008) untuk menjadi efektif para pemimpin harus mampu menerima budaya yang berbeda dan memiliki rasa ingin tahu tentang dunia budaya global.
Ada elemen universal bagi kepemimpinan tranformasional, yaitu visi, berpandangan kedepan, memotivasi, bisa dipercaya, dinamis, berpikir positif, dan proaktif. (Robin, 2008) tetapi budaya local dan perilaku masyarakat akan menentukan diterima tidaknya sang pemimpin tersebut. Sebagai contoh di jepang, diamnya pemimpin jauh lebih bermakna dibandingkan ribuan kata yang diutarakan orang lain.
Selain kultur masyarakat pemimpin juga bisa terbatasi oleh perilaku masyarakat dominan yang merasa tidak sesuai dengan perilaku sang pemimpin. MJK memiliki perilaku egaliter, terbuka dan agresifitas yang tinggi, sedangkan masyarakat dominan di Indonesia, yakni Jawa lebih berperilaku otokrat, tidak tergesa-gesa dan kurang terbuka pada lingkungan akibat lebih banyak pertimbangan rasa sungkan dan lain sebagainya. Jadi jelas bagi masyarakat dominan di Indonesia, sosok MJK bukanlah sosok yang mereka inginkan. Meskipun mereka membutuhkannya untuk banyak perubahan dan terobosan-terobosan penting bagi kemajuan bangsa.

Kesimpulan
• Pemimpin tranformasional adalah pemimpin yang mampu menginspirasi pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan memengaruhi yang luar biasa (Robin, 2008)
• Pemimpin yang hebat membutuhkan kekuatan etika dan etik dalam kesehariannya
• Kesuksesan seorang pemimpin dalam mempengaruhi masyarakat pemilih sangat tergantung pada kemampuannya berempati dengan budaya dan perilaku masyarakatnya.
• JK adalah sosok pemimpin tranformasional yang menginspirasi orang banyak, tegas, luwes dan mampu menyatakan tujuan-tujuan penting dalam bentuk yang sederhana
• Gaya kepemimpinan MJK sangat baik dimata masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi, hidup egaliter dan senang dengan kemajuan bangsa Indonesia, tetapi tidak bisa diterima oleh masyarakat Indonesia karena alasan etik, perilaku yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat menengah kebawah.
• Kesuksesan kepemimpinan untuk mampu menjadi presiden tidak hanya membutuhkan kualitas personal tetapi juga harus didukung oleh masyarakat yang berkualitas dalam pola pikir dan kehidupan kebangsaannya.

***
Daftar Pustaka
Antonio, Muhammad Syafii. Muhammad SAW The super Leaders –Super Manager. Prophetic Leadership & Management Centre-Jakarta. 2007
Assegaff., Syafiq B. Yusuf Kalla bicara soal kepemimpinan efektif. http://www.paramadina.ac.id. 2011
Bass Bernard M & Avolio Bruce J. Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership, Sage Publication, UK. 1994
Dirdjosuparto, Sukiswo. Motivation, Leadership, Organizational Culture, Ethics At Work: Kumpulan bahan-bahan kuliah PPS Ilmu manajemen Fem IPB. 2011
Hart, Michael H. Seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejaraj. Pustaka Utama-Jakarta. 1983
Majer, Kenneth. Value based Leadership. Gramedia Pustaka Utama-Jakarta. 2006
Mangkuprawira, Tb Sjafri. Bisnis, Manajemen & SDM. Horizon-Jakarta. 2008
Robbins, Stephen, R & Judge Timothy A. Organization Behavior, edisi 12 Edisi 1. Salemba Empat. Jakarta. 2009
Robbins, Stephen, R. Judge Timothy A. Organization Behavior, edisi 12 Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta. 2009
Ramly, A.T. Transformasi Manajemen Kualitas Menuju Penerapan Bisnis Yang Beretika, Majalah Afkar Cides-Jakarta. Vol V No. 4/1998
Ronda, Daniel. Perlukah Etika Bagi Pemimpin? Kompasiana.com. 2011
Ujang, sumarwan. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Penerbit Galia Indonesia. Jakarta. 2003
Shelton, Ken. In Search of Quality; 4 perspektif dan 43 wawasan unik. Gramedia-Jakarta. 1997
Suhardono, Edi. Moralitas dan etika politik. http://www.visiwaskita.com. 2011
Treacy, Michael & Wiersema, Fred. The Disciplin of Market Leaders. Gramedia Pustaka Utama-Jakarta. 1996
http://www.Wikipedia.com. 2011
Tempo No 23/V/Feb 08-14, 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s