Jurnal Ilmiah

Group Theory: Aliran Organicism vs Contextualism

street epistemologyBerdasarkan Jurnal: The Changing Epistemological Assumptions of Group Theory (Journal/auth. Mary J. Fambrough & Susan A. Comerford (Alliant International University & University of Vermont) Mata Kuliah: TEORI ORGANISASI Dr. Ir. Anggraini Sukmawati, MM KELOMPOK IV Amir Tengku Ramly / H251110121 Dewiyana / H2511100011 Myske Angel Rahantoknam / H25111021 Program Studi Manajemen Pasca Sarjana FEM IPB 2011  

I. PENDAHULUAN

Paper ini merupakan ringkasan dari jurnal ‘The Changing Epistemological Assumptions of Group Theory’ yang ditulis oleh Mary J. Fambruugh dan Susan A. Comerford yang diperkaya dengan beberapa bacaan lainnya yang terkait. Beberapa hal yang menjadi sorotan paper ini adalah teori group, epistemological dan hubungan keduanya sehingga menyebabkan terjadi nya perubahan asumsi dan pengertian. Ada 2 aliran dasar yang dibahas oleh penulis terkait dengan perkembangan teori group dalam epistemology yaitu Aliran Tradisional dengan paradigm Organicism dan Aliran Modern dengan paradigm Contextualism. Penulis dalam jurnalnya dengan mereferensi pada pepper (1942) menyatakan bahwa dinamika kelompok merupakan teori group yang mendasari aliran tradisional (paradigm organicism), yang menurutnya karena itulah dia mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat plural. Sebaliknya saat ini para ilmuwan (pepper, 1942) lebih tertarik dengan teori group contextualism, yang merupakan harapan untuk melahirkan teori group yang lebih efektif dalam kelompok yang plural (heterogen).

II. EPISTEMOLOGIS

Epistemologis berasal dari bahasa Yunani ἐπιστήμη (episteme), yang berarti “pengetahuan, ilmu pengetahuan”, dan λόγος ( logos ), yang berarti “studi tentang”) adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dan ruang lingkup (keterbatasan) dari pengetahuan . Ini membahas pertanyaan-pertanyaan: • Apa itu pengetahuan? • Bagaimana pengetahuan yang diperoleh? • Bagaimana kita tahu apa yang kita ketahui? Dalam filsafat, epistemologi mengacu pada studi tentang sifat, asal, dan batas-batas pengetahuan manusia. Lapangan tersebut kadang-kadang disebut sebagai teori pengetahuan. Epistemologi memiliki sejarah panjang, dimulai dengan Yunani kuno dan terus hingga saat ini. Secara epistemologis teori group berkembang dan dapat dilihat dalam 2 cara pandang mendasar: 1. Paradigma Organism 2. Paradigma Contextualism Menurut Wikipedia (2011) Organicism merupakan orientasi filosofis yang menegaskan realitas yang terbaik dipahami sebagai suatu keseluruhan organik. Organicism juga merupakan biologis doktrin yang menekankan organisasi, bukan komposisi, dari organisme . William Emerson Ritter menciptakan istilah pada tahun 1919. Organicism menjadi diterima dengan baik di abad 20. Organicism sebagai sebuah doktrin menolak mekanisme dan reduksionisme (doktrin yang menyatakan bahwa bagian-bagian terkecil sendiri menjelaskan perilaku sistem terorganisir lebih besar di mana mereka adalah bagian a). Namun, organicism juga menolak vitalisme , doktrin bahwa ada sebuah kekuatan penting yang berbeda dari kekuatan fisik yang bertanggung jawab bagi makhluk hidup. Sejumlah ahli biologi pada awal hingga pertengahan abad kedua puluh memeluk organicism. Mereka ingin menolak vitalisms sebelumnya namun menekankan bahwa seluruh organisme biologi tidak sepenuhnya dijelaskan oleh mekanisme atom. Organisasi yang lebih besar dari sistem organik memiliki fitur yang harus diperhitungkan untuk menjelaskan perilakunya. Contextualism Menurut wikipedia (2011) Contextualism menggambarkan koleksi pandangan dalam filsafat yang menekankan konteks di mana sebuah tindakan, ucapan, atau ekspresi terjadi, dan berpendapat bahwa, dalam beberapa hal penting, tindakan, ucapan, atau ekspresi hanya dapat dipahami relatif terhadap konteks itu. views kontekstualis berpendapat bahwa konsep-konsep filosofis kontroversial, seperti “yang berarti P,” “tahu bahwa P,” “memiliki alasan ke A,” dan mungkin bahkan “yang benar” atau “yang benar” hanya memiliki makna relatif terhadap konteks tertentu . Beberapa filsuf berpendapat bahwa konteks-ketergantungan dapat mengakibatkan relativisme ; bagaimanapun, pandangan kontekstualis semakin populer dalam filsafat. Dalam etika , “kontekstualis” pandangan sering terkait erat dengan etika situasional , atau dengan relativisme moral . Dalam teori arsitektur , contextualism adalah teori modern yang merancang jenis bangunan dimana yang diselaraskan dengan bentuk perkotaan yang biasa untuk sebuah kota tradisional. Dalam epistemologi , contextualism adalah pengobatan kata ‘tahu’ sebagai konteks-sensitif. Konteks-sensitif ekspresi adalah orang yang “mengungkapkan proposisi yang berbeda relatif terhadap konteks yang berbeda penggunaan”. Sebagai contoh, beberapa istilah yang relatif uncontroversially dianggap konteks-sensitif indexicals , seperti ‘aku’, ‘sini’, dan ‘sekarang ‘. Sementara kata ‘saya’ memiliki konstan makna linguistik dalam semua konteks penggunaan, yang mengacu pada berbeda dengan konteks.

III. PENGERTIAN GROUP DAN MUNCULNYA TEORI GROUP Group secara harafiah dapat diartikan dengan kata ‘kelompok’. Beberapa pengertian tentang group adalah sebagai berikut: • Group is ‘A collection of individuals who have regular contact and frequent interaction, mutual influence, common feeling of camaraderie, and who work together to achieve a common set of goals’ (http://www.businessdictionary.com). • Kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan dan rasa memiliki (Wikipedia, 2011) • Suatu unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan dasar kesatuan persepsi (Fambrough, • Dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung, bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (Robbins, 2007) Interaksi antar anggota kelompok tersebut dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok: • Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut • Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya • Adanya saling menghargai pendapat anggota lain • Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota kelompok

IV. Beberapa Teori Pengamatan Tentang Kelompok

Dihasilkan selama 8 dekade, dimulai tahun 1930-an. • Gersick (1988) mengindetifikasikan 2 aliran penelitian tentang pengembangan kelompok: 1. Aliran Dinamika kelompok (Group Dynamics) 2. Aliran Pemecahan Masalah (Group Problem Solving) Menurut penulis meskipun ada perbedaan mendasar, kedua aliran penelitian tersebut memiliki kesamaan penting. • Zander (1982) dalam artikel studi tentang perilaku group mengatakan bahwa dalam teori dinamika kelompok sangat sedikit ditemukan teori Full-Blown. Ini jumlah yang sangat sedikit dibanding dengan topic yang tersedia untuk diteliti. • Penulis berpendapat bahwa teori tradisional ‘dinamika kelompok’ dan pengembangannya menunjukkan bahwa itu muncul dari kerangka metatheoretical yang sama yang juga dinyatakan sebelumnya oleh slife & Williams, 1955. • Tentang kerangka metatheoretical, Burrell & Morgan (1979) mengatakan bahwa metatheories membentuk persepsi sebagai sebuah kerangka referensi yang mencerminkan serangkaian asumsi tentang sifat dan dunia social. Menurut Wikipedia (2011) Sebuah metateori atau meta-teori adalah teori yang pokok adalah beberapa teori lain. Dengan kata lain itu adalah teori tentang teori. Laporan dibuat dalam metateori tentang teori ini disebut metatheorems . Berikut ini adalah contoh dari pernyataan meta-teoritis: ” Setiap teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti bahwa hanya hipotesis, Anda tidak pernah dapat membuktikannya. Tidak peduli berapa kali hasil eksperimen setuju dengan beberapa teori, Anda tidak pernah dapat yakin bahwa waktu berikutnya hasilnya tidak akan bertentangan teori. Di sisi lain, Anda bisa membuktikan teori dengan menemukan bahkan pengamatan tunggal yang tidak setuju dengan prediksi teori. ” • Dengan demikian, mereka memainkan peran penting dalam judgment yang membentuk standar metodologis dan normative. Ini adalah pandangan dunia social yang memberikan latarbelakang secara umum yang memberikan pemahaman realitas social (Ritzer, 1992) • Kesamaan teori group (group dynamic dan group problem solving) berakar kuat pada kerangka konseptual yang mencerminkan epistemologis (Stephen pepper, 1942) Untuk membuktikan bahwa teori group (group dynamic) tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat plural dan bagaimana perlunyanya secara epistemologis teori group bergeser ke konsep contextualism, maka penulis memandang perlu memahami teori metafora pepper root’s terlebih dahulu.

V. Teori Metafora Pepper Root’s

Metafora adalah sastra kiasan yang menggunakan gambar, cerita atau nyata untuk mewakili hal yang kurang nyata atau beberapa kualitas berwujud atau ide, misalnya, “. Matanya berkilau bak permata” Metafora juga dapat digunakan untuk setiap retorika tokoh-tokoh pidato yang mencapai efek mereka melalui asosiasi, perbandingan atau kemiripan. (Wikipedia, 2011) Pepper (1942) mengusulkan hipotesa 4 hipotesa: formism, mechanism, organicism dan contextualism. • Formism ditandai oleh metafora akar kesamaan dan teori kebenaran korespondensi. Esensi objek dan fenomena yang statis dan bebas kontek. Seperti teori Plato • Mechanism adalah metafora akar dari pandangan dunia mekanistik, dimana kebenaran dinilai berdasarkan teori kausalitas berdasarkan data, pengamatan dan pengukuran. Manajemen ilmiah adalah contoh dari teori organisasi mekanistik (Frederick Taylor, 1911). • Organicism digambarkan dengan persatuan, penyelarasan, integrasi, dan holism dengan kebenaran ditentukan oleh teori koherensi. Metafora organicism adalah proses organic, menyiratkan ascensionism melalui gerakan berkelanjutan menuju tatatan yang lebih kompleksitas dan berkeseimbangan. Teori system, yang mencoba menyelaraskan proposisi dengan tujuan adalah produk dari pandangan organism (Wilber, 1995) • Contextualism berfokus pada tindakan dan interaksi peristiwa yang terjadi dalam konteks tertentu. Pandangan contextualism tidak ada yang statis, semua berubah dan universal sehingga tidak mungkin adanya fenomena atau entitas. Metafora akar contextualism adalah peristiwa masa lalu yang tertanam saat ini, dimana makna diciptakan dan direproduksi secara retrospektif (weick, 1995). • Teori kebenaran secara kualitatif sebagai pengetahuan akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan konteks (Pettigrew, 1985) • Penulis mengusulkan: bahwa bergerak menjauh dari konsep organicism dan menuju contextualism akan menawarkan seperangkat asumsi epistemologis yang lebih baik, karena disesuaikan dengan kebutuhan tantangan yang semakin pluralistic. • Mengapa teori metaphor dibutuhkan: menurut penulis karena kegunaan teori akar metafora dan contextualism sebagai kerangka teoritis telah dibuktikan dalam berbagai bidang studi, seperti preferensi gaya konselling (Lyddon & Adamson, 1992), Psikologi perkembangan (Reese & Overton, 1970), model pengembangan identitas (LJ Myers et al, 1991), industry psikologi (payne, 1976), psikoanalisis (McGuire, 1979), pendidikan pekerjaan social (comerford, 2005) dan metode penelitian kualitatif (Pettigrew, 1985).

VI. Group Dynamic (Dinamika Kelompok)

Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami. Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berati interaksi atau interdependensi antara kelompok satu dengan yang lain, sedangkan Kelompok adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama. Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain: 1. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup. 2. Memudahkan pekerjaan. 3. Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai bagian kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian. 4. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat. Dalam teori group pada jurnal ini, dinamika kelompok digolongkan sebagai aliran tradisional dengan paradigm organism, dengan karakteristik dasarnya sebagai berikut: • Alam semesta dapat diketahui dan kebenarannya adalah sistemik • Ada kesatuan akhir dari segala sesuatu, yg ideal • Alam semesta bergerak menuju keharmonisan yang lebih besar • Alam semesta secara implicit memiliki hirarki Paradigma organicism mengundang gambar perubahan abadi sebagai komponen reconfigure alam dan menyelaraskan, tetapi menurut lada (1942) paradigm ini menawarkan perubahan hanya pemenuhan warisan sejarah. Jadi perubahan dalam paradigm organicism adalah deterministic, bersifat evolusi yang mengarah ke atas (vertical), menuju kesempurnaan konsepsi universal.

Menurut penulis ada Empat Tenets (prinsip-prinsip) Teori Dinamika Kelompok dan unsure elemen organiscism yang mendasarinya: Prinsip-prinsip Dinamika kelompok Elemen Organicism 1. Tergantung pada data empiris 1. Alam semesta dapat diketahui dan kebenarannya sistemik. Proses social dan perilaku manusia dapat diprediksi dan dipahami. Melegitimasi ilmu social melalui penggunaan metode ilmiah tradisional 2. Universal dan general 2. Ada akhir dari segala sesuatu. Individu memberikan peran dan konstribusi untuk mencapai sinergi. Anomaly dapat didamaikan dengan integrasi dgn melihat ketingkat yang lebih tinggi 3. Group adalah entitas yang dapat dilihat sebagai keseluruhan yang dinamis 3. Inisiatif perubahan dapat diterapkan pada tingkat kelompok. Memungkinkan penerapan pengetahuan tentang perkembangan individu melalui siklus hidup kelompok. 4. Tujuan memperbaiki hubungan social dan institusi 4. Alam semesta bergerak menuju keharmonisan yang lebih besar. Para ilmuwan social berperan memfasilitasi kemajuan menuju kesempurnaan yang berlangsung di alam semesta. Dalam teori group dinamika kelompok kita melihat suatu siklus yang berulang dan mempertahankan diri, memperkuat prinsip dan praktek yang mendukung dan merekonstruksi struktur social dan proses yang ada. Siklus dimulai dari kohesivitas kelompok, yang membantu kelompok dalam mencapai consensus dan keputusan. Siklus dapat eksis tanpa konteks, membuatnya fleksibel, dan bersifat general. Dengan demikian menurut penulis persepsi yang terbangun dalam praktek bersifat status quo. Weick (1955) berspekulasi, ‘orang menciptakan dan menemukan apa yang mereka harapkan/inginkan dari ciptaan atau temuannya tersebut. Argyris dan Schon (1974) berpendapat bahwa setiap teori yang digunakan adalah ramalan diri. Teori group dinamika kelompok sebagai aliran tradisional dengan paradigm organicism memiliki siklus kerja seperti pada gambar berikut ini. Cohesiveness Menurut kamus Wikipedia (2011) dalam ilmu social cohesiveness dapat diartikan sebagai obligasi atau “lem” antara anggota komunitas atau masyarakat dan kehidupan. Zander (1982) mendefiniskan cohesiveness sebagai perhatian yang konsisten dalam suatu kelompok, sebagai kekuatan keinginan anggota. Tingkat cohesiveness dalam kelompok dapat diukur oleh tingkat kenyamanan dan keamanan, komitmen, norma, kepatuhan dan daya tarik kelompok. Kelemahannya meskipun dianggap cohesiveness sangat penting, namun dalam pengambilan keputusan (Harvey, 1988; Janis, 1972) bahwa tingkat cohesiveness yang tinggi dapat menyebabkan keputusan yang ‘cacat’ karena tidak adanya proses berpikir ‘kritis’. Tingkat pengertian dan keterikatan antar anggota kelompok menyebabkan tumbuhnya perilaku standar yang tidak saling mengkritisi. Consensus Menurut kamus Wikipedia (2011) Consensus pengambilan keputusan adalah pengambilan keputusan kelompok proses yang mencari persetujuan, belum tentu perjanjian tersebut, peserta dan resolusi keberatan. Konsensus didefinisikan oleh Merriam-Webster (2011) sebagai, pertama, kesepakatan umum, dan kedua, kelompok solidaritas dari keyakinan atau sentimen. Menurut Scholtes (1988) Mencapai consensus artinya tujuan setiap kelompok harus mencapai keputusan yang paling mencerminkan pemikiran dari semua anggota kelompok. Ukuran umunya adalah kualitas dan efektifitas kelompok. Biasanya, jika semuanya berjalan dnegan baik, anggota memiliki kesamaan pendapat yang akhirnya setuju terhadap alternative terbaik (Zander, 1982). Banyak teori-teori dalam dinamika kelompok secara konvensi (genre) menghilangkan kekuatan baik internal maupun eksternal sebagi pengaruh dari proses kelompok, dengan asumsi masyarakat sama (Berman, 1996). Dalam sebuah kelompok dengan perbedaan dan kekuatan implicit atau eksplisit, consensus dapat menjadi teknik yang menindas, karena membungkamkan suara minoritas dengan topeng egalitarisme. Karena anggota kelompok yang memiliki kekuasaan lebih berpengaruh dalam membuat keputusan akhir (zander, 1982) maka kemungkinan penindasan melalui consensus menjadi jelas Majority Viewpoint Guiner (1994) dalam karyanya The Tyranny of Majority, menggambarkan secara kontras masyarakat homogeny dan heterogen, yakni: Mayoritas tidak dapat mewakili keseluruhan. Dalam masyarakat homogeny, kepentingan mayoritas dapat berasal dari minoritas juga. Tetapi dalam komunitas heterogen, mayoritas tidak dapat mewakili semua kepentingan yang bersaing. Mayoritas mungkin akan tertarik dan acuh tak acuh terhadap kepentingan minoritas. Dalam banyak kasus bahwa mayoritas mewakili minoritas adalah ‘fiktif’ belaka. Dasar untuk mengabadikan sudut pandang mayoritas dalam sebuah kelompok yang berdasarkan cohesiviness dengan pengambilan keputusan secara consensus melalui sudut pandang kelompok mayoritas merupakan cara yang paling resisten dan paling organic, yang akhirnya menjadi asimilasi dari perbedaan menuju keseragaman diantara anggota kelompok. Assimilation Menurut Katz dan Kahn (1978) jalan ini adalah sanksi kelompok yang digunakan untuk kesesuaian dengan nilai-nilai dan untuk penyimpangan dari norma-norma yang merupakan sumber utama dari kepatuhan. Generalizabillity of Group Theory Teori universal tentang dinamika kelompok membentuk bingkai persepsi kita. Teori yang digunakan adalah teori buatan, yang menggambarkan perilaku untuk dunia yang mereka praktekkan (Argyris & Schon, 1974). Teori tersebut justru menguntungkan para pendorong status quo.

VII. Teori Group Baru: Paradigma Contextualism

Akar contextualism (pepper, 1942) terletak pada filsafat kebenaran pragmatis, yang tujuannya untuk memenuhi/melayani kebutuhan masyarakat praktis. Pragmatism sering digambarkan sebagai filsafat Amerika yang unik, dikembangkan oleh CS Peirce (1839-1914), William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Teori Group baru lahir sebagai cara para filsuf pragmatis menghadapi dunia modernis. Mereka berpendapat bahwa secara epistemologis, pragamatis kebenaran bersifat tentative dan parsial.

VIII. Organicism vs Contextualism

Uraian Organicism Contextualism PENGARUH FILOSOFIS AKAR METAFORA • Idealisme • Pragmatisme AKAR METAFORA • Proses organic menuju pada keutuhan • Peristiwa sejarah mengalami perubahan pada saat ini JENIS TEORI • sintetis • sintetis METODE ANALISIS • Integratif • Dispersif PERUBAHAN ALAM • Menuju kebenaran mutlak • Radikal dan tak terduga SIFAT KEBENARAN • Koherensi teori kebenaran diketahui dan menunggu u ditemukan • Konfirmasi kebenaran teori kualitatif, dinamis, kontingen, dan utilitarian SIKAP THD WAKTU • Tidak penting • Sangat penting AKAR INTELEKTUAL • Schelling, hegel, Green, Bradley, Bosanquet dan Royce • Peirce, James, Bergson, Dewey dan Mead

IX. Teori Group Contextualism adalah teori proses

4 Prinsip panduan proses teori group contextualism adalah: 1. Power Inquities diakui 2. Berbagai perspektif berpikir diterima dan secara aktif mencari 3. Tujuan dan sasaran kelompok ekplisit 4. Proses yang disengaja untuk ‘reifikasi’ (mengubah ide abstrak menjadi actual) Perilaku setiap anggota adalah unik karenanya dalam paradigm contextualism focus pada persamaan. Proses group contextualism dimulai dengan kelompok dan individu anggota yang berdiri berdampingan (setara) Langkah-langkah dalam proses teori group contextualism: • Komitmen keanggotaan • Kontrak keanggotaan • Persetujuan untuk maksud dan tujuan • Kepercayaan dan keamanan psikologis • Group-level action • Evaluasi retrospektif

X. Teori Jurnal Pembanding: Problem Solving vs Concensus

Menurut Julie (1995) Efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya kelompok. Kelompok kecil (3-4 anggota) dan kelompok besar (8-10 anggota). Kelompok-kelompok kecil lebih kohesif daripada kelompok-kelompok besar dan kelompok homogen lebih kohesif daripada kelompok heterogen. Jadi dasar efektifitas tidaknya group bukan ditentukan oleh jenis groupnya tetapi keanggotaan dan komunikasi yang dikembangkan di dalamnya. Keterbukaan komunikasi merupakan “unsur penting dalam iklim manajerial terkait dengan efektivitas organisasi” (Redding, 1972, hal 386). Simon (1976) menekankan bahwa pengambilan keputusan bergantung baik pada apakah informasi yang tepat mencapai keputusan-keputusan dan, juga, apakah keputusan mencapai mereka yang diperlukan untuk memasukkannya ke dalam tindakan. Dalam kondisi jenis kelompok, kelompok-kelompok kecil yang lebih kohesif daripada kelompok besar hanya dalam kondisi homogen. Kelompok heterogen lebih ekspresif dan menunjukkan individu yang lebih besar dibandingkan kelompok homogen. Implikasi potensial untuk penelitian organisasi dan praktek tentang kelompok kerja dibahas dalam hal ukuran yang optimal, jenis, dan dinamika kelompok (Julie, 1995). Jadi dinamika kelompok baik dan efektif, apabila jumlah anggota sedikit (small group), homogen karena akan lebih kohesif. Tetapi apabila jumlah anggota besar, heterogen maka problem solving group menjadi lebih baik karena akan lebih ekspresif.

XI. Kesimpulan

• Teori Group kelompok tradisional seperti dinamika kelompok didasarakan pada paradigm Organicism • Teori group dinamika kelompok cocok pada masyarakat homogen • Teori group baru berparadigma contextualism • Contextualism menawarkan kerangka epistemologis yang mampu merangkul keragaman dan perbedaan • Teori contextualism merupakan teori proses yang sangat cocok pada masyarakat plural (heterogen) • Bila ukuran kelompok kecil (3-4) orang maka akan lebih efektif bila menggunakan pendekatan group dinamika kelompok dengan paradigm organicism • Bila ukuran kelompok besar (5-8 orang) maka akan lebih efektif bila menggunakan pendekatan group problem solving dengan paradigm contextualism

Daftar Pustaka:

Breen, Virginia. Et.al. 2005. Consensus Problem-Solving Increases Perceived Communication Openness in Organizations. Employee Responsibilities and Rights Journal, Vol. 17, No. 4, December 2005. DOI: 10.1007/s10672-005-9050-z

Fambrough, Mary J & Comerford, Susan A. 2006.The Changing Epistemological Assumptions of Group Theory. Journal/auth. Alliant International University & University of Vermont.

Julie, Mack & Cher, Thomas. 1995. The effects of group size and cohesiveness on performance of diverse groups. California State University, Long Beach

Robbins, Stephen P & Judge, Timothy A. 2009. Organization Behavior. Salemba Empat. Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s