Jurnal Ilmiah

GENEALOGICAL CRITIQUE OF THE MBTI (MYERS BRIGGS TYPE INDICATOR)

ANALISIS KRITIS JURNAL ILMIAH:
Astrology, Alchemy and Retro-Organization Theory: An Astro-Genealogical Critique of the MBTI

AMIR TENGKU RAMLY
MAN Pasca Sarjana FEM IPB

PENDAHULUAN

mbti-infographicMyers Briggs Type Indicators atau MBTI merupakan alat yang digunakan sebagai tes untuk memahami kepribadian manusia, yang bersumber dari teori psikologi analitik. Tentang kepopuleran MBTI ini, Benfari (1995) menuliskan bahwa sejak majalah Fortune (1997) menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ‘Personality Test Are Back’, MBTI telah menarik perhatian banyak perusahaan Amerika untuk menggunakannya sebagai solusi bagi banyak masalah dalam hubungan antar manusia. Pengguna MBTI meningkat tajam dari tahun ke tahun.
MBTI merupakan tes psikometri yang paling banyak digunakan di dunia, dan diperkirakan 3,5 juta tes MBTI diberikan setiap tahun di Amerika Serikat saja, dan secara rutin telah digunakan di Kanada, Inggris, Australia, Selandia Baru, Jepang, Jerman, italy, singapura, korea dan banyak negara lain (Myers dalam Case & Phillipson, 2004)
MBTI yang merupakan hasil rancangan Katherine Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers merupakan aplikasi dari teori psikologi Carl Gustav Jung. Katharine Briggs pada mulanya terinspirasi dari buku Gustav Jung yang berjudul ‘Psychological Types’ (1923), kemudian menyusunnya dalam bentuk model yang lebih aplikatif yaitu MBTI, yang namanya diambil dari penggabungan Katherine dan putrinya Isabel.
Banyak kalangan professional yang berpendapat bahwa tes MBTI adalah model pengembangan organisasi dan manajemen modern. Inilah tes berbasis logika dan empiris sejalan dengan perkembangan organisasi dan manajemen modern. Bahkan Robert Benfari (1995) dalam bukunya ‘Understanding Your Management Style: Beyond the MBTI’ menggambarkan bagaimana sebuah skenario manajemen diperusahaan besar sukses dengan menerapkan MBTI dalam pola hubungan dan komunikasi dengan para karyawan dan konsumen perusahaan. Ia menyimpulkan bahwa seorang pemimpin perusahaan yang ingin sukses perlu memahami gaya manajemen dirinya dan para bawahan dan konsumennya.
Ada beberapa alasan menurut Benfari (1995) mengapa anda harus mengenali gaya manajemen dalam organisasi modern yang anda pimpin, yaitu:
• Anda akan merasa lebih nyaman dan menerima diri anda. Anda akan memperoleh kendali diri yang lebih besar. Anda akan mampu mengubah atau memodifikasi perilaku anda sesuai tuntutan situasi
• Anda akan lebih peduli dan dapat menerima perbedaan-perbedaan kepribadian individu. Anda akan tahu bahwa perbedaan dibutuhkan bukan untuk diperselisihkan, tetapi untuk dapat dikelola. Jika anda pernah berharap sekali bahwa bawahan anda adalah tunas pengganti anda sendiri, anda akan berhenti berharap demikian. Dengan cara anda mau menerima dan mau bekerja dengan perbedaan-perbedaan yang dimiliki orang lain, hal ini akan memperkuat hubungan-hubungan anda.
• Anda akan mengembangkan strategi-strategi pribadi untuk menangani konflik dan akan membuat suatu komitmen terhadap perubahan perilaku anda yang negative. Anda akan menerima tanggungjawab pribadi atas intervensi konflik dan tindakan. Ini merupakan bagian dari proses yang akan menuntut sebagian besar waktu dan tenaga anda
• Keterampilan diagnostic anda akan menguntungkan organisasi anda secara keseluruhan. Anda akan menjadi pembangun kelompok (team builder), yang mendorong dan menggabungkan kekuatan-kekuatan individu. Anda akan mengerti dimana sebenarnya kekuatan berada, bagaimana pekerjaan berjalan, dan bagaimana masing-masing komponen pekerjaan memberikan kontribusi atau sumbangan kepada gambaran yang besar. Anda akan mempelajari bagaimana gaya manajemen anda sesuai dengan gaya-gaya lain dalam organisasi anda, apakah gaya itu bersifat khas atau mungkin gaya itu membuat anda jadi seorang Maverick, orang yang bebas dan tidak bergantung pada orang lain.
Meskipun Benfari menggambarkan kebutuhan akan organisasi modern terhadap pendekatan psikology Jung dan MBTI, tetapi dia juga mengatakan bahwa MBTI tidak akan dapat menghasilkan perubahan yang efektif dalam gaya manajemen, tetapi merupakan suatu permulaan yang sangat bermanfaat.
Benarkah MBTI merupakan cerminan manajemen modern yang saat ini banyak digunakan oleh organisasi-organisasi modern? Tentang hal ini telah menarik perhatian 2 orang ilmuwan Inggris dari university of Exeter dan Bath Spa University College, yaitu Peter Case dan Garry Phillipson.
Dalam jurnal ilmiahnya (2004) kedua ilmuwan ini memaparkan secara empiris bagaimana MBTI yang kita sebut sebagai manajemen modern tersebut yang bersumber dari teori psikologi Jung, ternyata berasal dari zaman Renaissance (zaman pra modern). Tes MBTI merupakan pendekatan manajemen yang bersumber dari ilmu perbintangan (astrology), unsur-unsur kimia (alchemy) dan teori organisasi zaman sebelum masehi, zaman Empedocles dan Hippocrates.
Tulisan ini yang merupakan telaah kritis tentang MBTI akan memaparkan konsep, penggunaan MBTI dalam organisasi modern dan beberapa pokok pikiran kritik genealogical yang ditulis Pater Case dan Garry Phillipson, kritisi penulis terhadap genealogical critic serta beberapa saran terkait pemanfaatan MBTI dalam organisasi modern saat ini.

PSIKOLOGY JUNG dan MBTI
DALAM TEORI ORGANISASI MODERN

Psikologi Jung
Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah seorang psikiater dan pemikir yang berpengaruh dan pendiri psikologi analitik. Jung dianggap sebagai psikiater modern pertama untuk melihat jiwa manusia sebagai “bersifat religious” dan membuatnya focus pada eksplorasi diri manusia. Meskipun bukan yang pertama untuk menganalisis mimpi, ia adalah salah satu peneliti yang dikenal terbaik di bidang mimpi analisis. Karya Jung juga banyak diilhami oleh hasil penjelajahannya mempelajari filsafat Timur dan filsafat Barat, termasuk alkimia, astrologi dan sosiologi. Jung sangat tertarik pada hal-hal bersifat symbol sebagai proses dari jiwa manusia dan pada mimpi sebagai alam bawah sadar.
Teori Jung dianggap sebagai proses individuasi yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi utuh (sempurna). Yakni proses psikologis yang mengintegrasikan alam sadar dengan alam bawah sadar dengan tetap mempertahankan otonomi relatifnya. Individuasi merupakan konsep sentral dari psikologi analitis.
Dalam teorinya Jung membagi kepribadian manusia dalam 3 system utama:
1. Kesadaran yg berpusat pada ego (pikiran, ingatan dan perasaan)
2. Ketidaksadaran pribadi (hasil pengalaman pribadi karena satu sebab terlupakan)
3. Ketidaksadaran kolektif (bekerja diluar kesadaran seseorang)
Berdasarkan 3 system utama kepribadian tersebut, jung merumuskan 2 tipe kepribadian manusia dengan istilah ‘extravertion’ dan ‘introvertion’ serta 4 preferensi (tipologi) dasar kepribadian manusia yaitu: Sensing (S), Intuiting (N), Thinking (T) dan Feeling (F).
Motivasi awal jung menyelediki tipologi manusia (dalam Naisaban, 2003) adalah keinginan Jung untuk mengerti dan memahami pandangan Freud dan Adler tentang gangguan mental. Freud melihat bahwa pasiennya sebagai orang yang suka bergantung. Freud juga memandang pasiennya dalam hubungan dengan objek-objek penting, khususnya dengan orangtua. Karenanya menurut Freud perilaku manusia disebabkan oleh objek diluar diri manusia. Sedangkan Adler melihat bahwa seseorang mencari keamanan atau jaminan dan supremasinya sendiri. Adler menemukan bahwa perilaku manusia ada dalam subjek itu sendiri.
Jung menilai pandang Freud lebih ekstrover dan pandang Adler lebih introvert (Sharp dalam Naisaban, 2003). Jung selanjutnya mengadakan penelitian dan observasi selama hampir 20 tahun sebelum ia merumuskan teori psikologinya. Ia meneliti pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tipe kepribadian manusia dalam bentuk mitologi, dalam bidang seni, filsafat dan psiko patologi. Tahun 1921, Jung menerbitkan buku hasil penelitiannya dengan judul ‘Psychological Types’.
Dalam buku tersebut Jung mengemukakan suatu gambaran psikologis umum menurut hokum universal, lalu mengubah dan memprosesnya menjadi psikologi individu untuk menjelaskan keunikan karakter dan perilaku individu.
Jung juga menguraikan 2 hal penting terkait kepribadian manusia, yaitu:
1. Mengidentifikasikan dan menjelaskan beberapa proses dasar psikologis dan sekaligus menunjukkan bagaimana proses-proses bergabung dalam beberapa kombinasi, yang selanjutnya menunjukkan karakter seorang individu.
2. Mengemukakan suatu gambaran psikologis umum menurut hokum universal, lalu mengubah dan memprosesnya menjadi psikologi individu untuk menjelaskan keunikan karakter dan perilaku individu.
Tentang hasil temuannya ini Jung mengatakan: adalah salah satu pengalaman luar biasa dalam hidup saya, menemukan bagaimana besarnya perbedaan psike antar manusia (Hali & Nordby dalam Naisaban, 2003)

Fungsi-Fungsi Kepribadian Jung
Dalam penelitiannya, Jung menemukan bahwa manusia memiliki 2 orientasi dalam menyalurkan perhatian, tenaga dan seluruh kemampuannya, yaitu Ektrover dan Introver. Penemuan lainnya yang juga menjadi bagian dari teori psikologi Jung adalah bahwa kepribadian manusia dapat dikatagorikan dalam 4 fungsi psikologis yaitu: fungsi Berpikir, fungsi Merasa, fungsi Pengindera dan fungsi Intuitif.
Menurut Jung (dalam Ramly A.T, 2011) sikap ektrover dan introvert saling bertolak belakang. Sikap ektrover mengalirkan energy sadar, berorientasi keluar pada dunia objektif, sedangkan sikap introvert energinya diarahkan pada kesadaran internal dan berorientasi ke dalam pada dunia subjektif. Energi seseorang sangat berpengaruh pada motivasinya.
Menurut Mc. Cleland (dalam Ramly, AT, 2011) energy introvert menyebabkan seseorang:
• Percaya pada kemampuan diri sendiri
• Sukses karena kekuatan dalam diri sendiri
• Cenderung sulit percaya pada orang lain
• Jika gagal cenderung menyalahkan diri sendiri, mudah frustasi dan menyiksa diri sendiri
Sedangkan energy ektrovert menyebabkan seseorang:
• Mudah tergantung pada orang lain
• Sukses karena lingkungan dan dukungan orang lain
• Mudah percaya pada orang lain
• Jika gagal mudah menyalahkan orang lain
Menurut Jung (dalam Naisaban, 2003) fungsi berpikir berhubungan dengan relasi ide satu sama lain, untuk mencapai suatu konsep umum atau suatu solusi dari suatu problem. Fungsi ini berhubungan juga dengan proses kognisi pikiran. Karena itu disebut intelektualitas. Dengan fungsi ini manusia berusaha untuk memahami sifat dasar dunia dan diri mereka sendiri. Fungsi perasa adalah fungsi evaluasi. Fungsi ini menilai apakah sesuatu dapat diterima atau ditolak berdasarkan nilai-nilai atau subjektifitas diri. Fungsi ini juga mengevaluasi apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan. Ia memberikan pengalaman pada manusia pengalaman subjektif akan kesenangan dan kesakitan, kemarahan dan ketakutan, kesedihan dan kegembiraan serta rasa cinta.
Fungsi berpikir dan perasa disebut juga fungsi rasional, karena keduanya menjalankan fungsi evaluasi dan penilaian terhadap realitas hidup manusia (Naisaban, 2003). Dalam fungsi berpikir seseorang membuat penilaian atau pertimbangan ‘apakah ada suatu hubungan yang logis dalam dua atau lebih gagasan’, sedangkan dalam fungsi perasa seseorang membuat penilaian ‘apakah suatu gagasan menyenangkan atau tidak, indah atau buruk, menggairahkan atau membosankan’ dan lain-lain.
Instrumen MBTI
Setelah perang dunia ke 2 Katherine Briggs mempelajari buku ‘Psychological Types’ karya Jung bersama putrinya Isabel Myers kemudian merumuskan teori jung secara praktis dan membuat sebuah tes kepribadian MBTI yang dapat menggolongkan manusia sesuai dengan teori Jung tersebut.
Instrumen MBTI yang dirancang Katherine dan Putrinya Isabel didasarkan pada ide-ide psikologi Jung tentang persepsi, penilaian dan sikap manusia. Tujuan Instrumen ini dirancang untuk mengidentifikasi preferensi dasar manusia dalam mempersepsi dan menilai sesuatu diluar dirinya.
Instrumen MBTI memiliki perbedaan mendasar dengan instrument kepribadian lainnya adalah bahwa Instrumen MBTI dirancang untuk menerapkan teori dasar psikologi Jung. Sehingga untuk memahaminya, kita juga harus memahami teorinya.
Instrumen MBTI mengandung 4 indek utama yang bersumber dari preferensi psikologi Jung, yaitu:
1. Extraversion – Introversion (E – I)
2. Sensing – Intuiting (S – N)
3. Thinking – Feeling (T – F)
4. Judging – Perceiving (J – P)
Indek E-I dirancang untuk mengetahui energy yang ada pada diri seseorang; ekstrovert atau introvert. Energi ekstrovert tampak dari orientasi seseorang pada lingkungan diluar dirinya, sedangkan energy introvert tampak dari orientasi seseorang pada dunia dalam diri sendiri.
Indek S-N dirancang untuk mengetahui preferensi seseorang dalam menyerap informasi dari luar; sensing atau intuiting. Preferensi sensing menyerap informasi melalui kekuatan pancainderanya baik melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan maupun perasa. Sedangkan preferensi intuiting menyerap informasi melalui kekuatan intuisi yang lebih abstrak dengan menemukan makna atau hubungan atau suatu kemungkinan yang bisa terjadi dibalik sebuah peristiwa yang dilihat.
Indek T-F dirancang untuk mengetahui preferensi seseorang dalam memutuskan atau menilai sesuatu diluar dirinya; thinking atau feeling. Preferensi thinking memutuskan sesuatu lebih mengandalkan logika dan hubungan sebab akibat. Sedangkan preferensi feeling memutuskan sesuatu mengandalkan subjektifitas diri berdasarkan pertimbangan nilai-nilai dan kemanusiaan. Indek J-P dirancang untuk mengetahui gaya dan proses seseorang dalam berhubungan dengan dunia luar dirinya. Ditemukan gaya J disukai oleh preferensi T dan F, sedangkan gaya P disukai oleh preferensi S dan N.
16 Tipologi MBTI
Berdasarkan 4 indeks preferensi yang dirancang Katherine dan putrinya Isabel tersebut maka dirumuskan ada 16 tipologi utama kepribadian manusia, yaitu:
ISTJ ISFJ INFJ INTJ
ISTP ISFP INFP INTP
ESTP ESFP ENFP ENTP
ESTJ ESFJ ENFJ ENTJ
Sumber: http://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/
Benfari (1995) menguraikan tentang 16 kepribadian MBTI sebagai berikut:
1. ISTJ merupakan tipologi thinking yang introvert dengan sensing sebagai preferensi pendukungnya.
2. ISTP merupakan tipologi sensing yang introvert dengan thinking sebagai preferensi pendukungnya.
3. ESTP merupakan tipologi sensing yang ektrovert dengan thinking sebagai preferensi pendukungnya
4. ESTJ merupakan tipologi thinking yang ekstrovert dengan sensing sebagai preferensi pendukungnya.
5. ISFJ merupakan tipologi feeling yang introvert dengan sensing sebagai preferensi pendukungnya
6. ISFP merupakan tipologi sensing yang introvert dengan feeling sebagai preferensi pendukungnya
7. ESFP merupakan tipologi sensing yang ekstrovert dengan feeling sebagai preferensi pendukungnya
8. ESFJ merupakan tipologi feeling yang ekstrovert dengan sensing sebagai preferensi pendukungnya
9. INFJ merupakan tipologi feeling yang introvert dengan intuiting sebagai preferensi pendukungnya
10. INFP merupakan tipologi intuiting yang introvert dengan feeling sebagai preferensi pendukungnya
11. ENFP merupakan tipologi intuiting yang ekstrovert dengan feeling sebagai preferensi pendukungnya
12. ENFJ merupakan tipologi feeling yang ektrovert dengan intuiting sebagai preferensi pendukungnya
13. INTJ merupakan tipologi thinking yang introvert dengan intuiting sebagai preferensi pendukungnya
14. INTP merupakan tipologi intuiting yang introvert dengan thinking sebagai preferensi pendukungnya
15. ENTP merupakan tipologi intuiting yang ekstrovert dengan thinking sebagai preferensi pendukungnya
16. ENTJ merupakan tipologi thinking yang ekstrovert dengan intuiting sebagai preferensi pendukungnya
Mc Caulley dan Myers Brigss (dalam Naisaban, 2003) menjelaskan bahwa cirri-ciri tipologi MBTI pada perseorangan adalah:
(1) orang ISTJ adalah orang yang serius, pendiam, menjalani sukses dengan penuh konsentrasi, mereka orang praktis, sangat teratur, factual, logis, realistis, dan bergantung. Mereka juga terkatagori sebagai orang yang bertanggungjawab, membuat rencana tentang apa yang harus mereka patuhi. Apa saja bidang yang dikerjakan harus dijalani dengan kerja keras, kurang menghiraukan protes dan gangguan,
(2) orang ISTP adalah orang yang penuh antusiasme dan setia, tetapi jarang berterus terang sampai segalanya menjadi jelas, selalu belajar, senang ide-ide, bahasa, proyek-proyek pribadi yang bebas, sangat bersahabat, dan sedikit prihatin dengan keadaan sekitar,
(3) orang ESTP adalah orang yang baik dalam memecahkan masalah, tidak dihinggapi kekuatiran, senang dengan apa adanya, senang dengan hal-hal yang terkait dengan mesin dan olahraga, mudah menyesuaikan diri, toleran, umumnya cenderung konservatif pada nilai hidup, tidak senang dengan keterangan yang terlalu panjang.
(4) orang ESTJ adalah orang praktis, realistis, berpusat pada fakta, memiliki bakat bisnis dan mekanik, senang berorganisasi dan aktif,
(5) orang ISFJ adalah orang yang pendiam, bersahabat, bertanggungjawab, berhati-hati, bekerja keras untuk memenuhi kewajiban mereka. Mereka tidak senang dengan hal atau barang teknik, mereka sabar dengan hal-hal kecil, setia, penuh perhatian, prihatin dengan apa yang orang lain rasakan,
(6) orang ISFP adalah orang yang malu-malu, agak mudah berteman, peka, baik, rendah hati dengan kemampuan mereka, menghindari penolakan, tidak memaksakan pendapat mereka kepada orang lain,
(7) orang ESFP adalah orang yang senang ke luar rumah, kemana saja ia suka, bersahabat, gampang menerima, senang segala hal dan membuat hal-hal lucu bagi orang lain, mereka tahu apa yang sedang berjalan dan gampang ambil bagian, senang olahraga, gampang mengingat fakta dan teori-teori,
(8) orang ESFJ adalah orang yang hangat, populer, bicara banyak, memiliki semangat berkumpul/berorganisasi, teliti, aktif dalam organisasi, sangat baik dalam menciptakan situasi harmonis, selalu berbuat yang baik terhadap sesame, bekerja baik kalau selalu dipuji, tertarik dengan hal-hal yang dilihat dan mempunyai efek langsung kepada manusia,
(9) orang INFJ adalah orang yang sukses karena ketekunan, keahlian dan keinginan besar untuk melakukan apa yang dibutuhkan atau diinginkan. Meletakkan segala kemampuan mereka dalam kerja, berhati-hati, prihatin terhadap orang lain, respek pada prinsip-prinsip mereka, senang dihargai tentang apa yang mereka lakukan untuk kebaikan umum.
(10) orang INFP adalah pendiam dan hati-hati, senang dengan ilmu-ilmu teoritis, senang menyelesaikan kesulitan-kesulitan dengan logika dan analisis, tertarik dengan ide-ide, senang dengan pekerjaan dimana minat dapat digunakan secara penuh,
(11) orang ENFP adalah orang yang handal, punya antusiasme, bersemangat tinggi, jujur, imajinatif, mereka dapat melakukan segala hal yang menarik perhatian mereka, cepat mengambil keputusan dalam situasi yang sulit dan siap menolong siapa saja yang mengalami kesulitan,
(12) orang ENFJ adalah orang yang sangat bertanggungjawab, umumnya dapat merasakan apa yang orang lain pikir dan inginkan, melakukan hal-hal yang disenangi orang lain, mudah menjadi pemimpin diskusi, social, populer, simpatik, menerima pujian dan kritik,
(13) orang INTJ adalah orang yang memiliki pikiran-pikiran asli dan kekuatan besar untuk pikiran-pikiran dan rencana pribadi mereka. Mereka memiliki kemampuan besar untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa bantuan orang lain. Skeptis, kritis, tidak mau bergantung pada orang lain dan kadang-kadang kepala batu,
(14) orang INTP adalah orang yang pembawaannya pendiam dan sangat hati-hati meskipun mereka tidak mengalami kesulitan dalam berbicara banyak hal. Baik dalam pengetahuan murni, penelitian dan matematika. Mudah menyesuaikan diri, cenderung mengorganisir ide-ide dan pengetahuan dibandingkan situasi dan manusia, mereka cenderung mengikuti pikiran mereka sendiri,
(15) Orang ENTP adalah orang yang jujur , cepat bertindak, baik dalam banyak hal, sangat mendukung kebersamaan, siap siaga dan berterus terang. Mereka sangat baik dalam menyelesaikan persoalan baru dan masalah-masalah yang menantang. Sebaliknya mereka agak menghindar dengan tugas-tugas rutin, sangat mahir dalam menemukan alasan logis dari apa yang mereka inginkan,
(16) orang ENTJ adalah orang yang keras hati, terus terang, pemimpin dalam kegiatan, berkarakter dingin, pendiam, hati-hati, observer, menganalisis hidup dengan sikap penuh ingin tahu, tertarik pada logika sebab akibat . Ia cakap untuk pekerjaan yang membutuhkan pikiran logis.
MBTI dalam Organisasi Modern
Organisasi modern dicerminkan oleh cara pandang, sikap, perilaku dan teknologi organisasi yang modern. Organisasi modern juga bisa dilihat dari perilaku organisasi baik secara individu maupun tim kerja (Robbin Stephen & Judge Timothy, 2009).
Untuk melihat cara pandang dan perilaku organisasi, Gibson Burrell dan Gareth Morgan (1998) mengemukakan ada 4 asumsi dasar yang dapat dijadikan sandaran, yaitu:
1. Asumsi ontology.
Asumsi mengenai keberadaan suatu fenomena, apakah dapat dianggap sebagai suatu kebenaran yang independen atau kebenaran yang merupakan produk persepsi individu
2. Asumsi epistimologi.
Asumsi mengenai bagaimana individu dapat memahami dunianya dan bagaimana ia dapat menyampaikan pemahamannya tersebut kepada individu lainnya.
3. Asumsi human nature.
Asumsi mengenai karakteristik psikologis individu dan hubungannya dengan lingkungan
4. Asumsi metodologi
Asumsi mengenai bagaimana para pakar ilmu social meneliti dan memahami dunia socialnya.
Asumsi-asumsi tersebut dapat di aplikasikan melalui 2 pendekatan utama yaitu subjektif dan objektif. Pendekatan subjektif disebut ‘german idealism’ sedangkan pendekatan objektif disebut ‘sociological positivism’. Untuk mengkatagorikan berbagai pandangan pakar sosiologi dalam model ‘order-conflict’, Burrell dan Morgan (2000) mengajukan istilah ‘sociology of regulation’ dan ‘sociology of radical change’.
Sociology of regulation digunakan untuk mendeskripsikan tulisan dan pemikiran kemasyarakatan yang menekankan pada kesatuan, solidaritas dan kohesivitas sebagai fenomena dalam suatu masyarakat. Sociology of radical change mendeskripsikan tulisan dan pemikiran yang menekankan pada perubahan radikal, konflik yang mendasar, dominasi dan kontradiksi structural yang menjadi cirri-ciri masyarakat modern.
Disamping hal tersebut diatas organisasi modern juga ditandai dengan berfungsinya ‘organisasi pembelajar’ baik bagi individu maupun tim dalam suatu organisasi. Ada 5 komponen penting bagi organisasi modern yang menjadi ‘learning organization’ yang akan meningkatkan kapasitas individu dan organisasi (Senge, 1996):
1. Berpikir System (System Thinking). Organisasi merupakan pola yang saling berhubungan satu sama lain yang menjadikannya sebagai system, karena itu dibutuhkan cara pandang organisasi. Cara pandang akan mempengaruhi sikap, tindakan dan perilaku organisasi.
2. Keahlian Pribadi (Personal Mastery). Belajar untuk memperluas kapasitas diri guna mencapai hasil kerja terbaik merupakan kebutuhan setiap organisasi
3. Model Mental (Mental Models). Proses bercermin, khususnya cermin hati dengan meningkatkan gambaran diri tentang organisasi dan dunia luar.
4. Visi Bersama (shared Vision). Setiap visi individu dalam sebuah organisasi dapat diterjemahkan sebagai visi bersama dalam bentuk prinsip-prinsip dan panduan komitmen bersama.
5. Pembelajaran Tim (Team Learning). Pembelajaran secara tim akan memacu anggota individu organisasi akan tumbuh dengan cepat. Pembelajaran tim dapat dilakukan dengan transformasi pembicaraan, tindakan dan keahlian berpikir pada tim organisasi sehingga setiap individu menjadi bagian dari kekuatan tim.
Apakah MBTI termasuk dalam perangkat dan perilaku organisasi modern? Keberadaannya sangat ditentukan oleh sejauhmana MBTI telah mempengaruhi perilaku individu dan tim sebuah organisasi, baik dalam pandangan ‘sociology of regulation’ atau ‘sociology of radical change’. Apakah MBTI merupakan bagian dari ‘learning organization’?
Mengapa theory Jung dapat diterima oleh masyarakat modern? Zick dan Elton (dalam Naisaban, 2003) mengatakan bahwa Jung adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia tanpa menghubungkannya dengan bentuk fisik manusia itu sendiri. Jung mengembangkan suatu teori kepribadian manusia yang murni psikologis, dan lebih fleksibel, tidak kaku bahwa seseorang harus masuk dalam salah satu tipe. Karena semua preferensi yang dikemukakan Jung ada pada manusia hanya menjadi berbeda karena dominasinya.

CRITIQUE OF MBTI

Genealogical Critique
Secara bahasa genealogical dapat diartikan dengan silsilah. Secara ilmu genealogical adalah studi tentang silsilah atau asal usul keluarga. Menurut Wikipedia (2011) Genealogy (from Greek: γενεά, genea, “generation”; and λόγος, logos, “knowledge”) is the study of families and the tracing of their lineages and history. Genealogists use oral traditions, historical records, genetic analysis, and other records to obtain information about a family and to demonstrate kinship and pedigress of its members. The results are often displayed in charts or written as narratives.
MBTI sebagai perangkat manajemen organisasi modern, secara silsilah asal muasal ternyata lahir dari pemikiran para tokoh-tokoh pra modern, seperti Empedocles, Hipocrates bahkan kalau ditelusuri jauh sebelum masehi, dimana Jung sebagai sandaran teori MBTI berpijak pada teori-teori astrology dan alchemy seperti Ficino, Paracelsus, Heinrich Cornelius, Francesco Giorgi, Giordano Bruno, John Dee dan Robert Fludd (Case & Phillipson, 2004).
Jung (dalam Case, 2004) menuliskan ‘the practise of alchemy may be understood as a precursor to modern chemistry insofar as alchemists were concerned to explore – through frequent and repeated experimentation – the property of materials and their chemical transmutation’.
Preferensi yang dikemukan oleh Jung seperti yang sudah dijelaskan diawal yaitu; Thinking (T), Feeling (F), Intuiting (N), Sensing (S) bila ditelusuri hanya istilah lain yang telah digunakan oleh pakar astrology zaman renaissance dengan istilah seperti Jeudi =Jove’s day (Jupiter), Monday=Moon day (venus), Mardi=mars day, Saturday=satur day (saturnus). Istilah yang digunakan Empedocles dengan istilah Air (udara), Water (air), Fire (api) dan Earth (bumi). Juga istilah yang digunakan Hippocrates; sanguine, phlegmatic, choleric dan melancholy.

Tabel 1. Analogi preferensi Psikology Jung dengan sumber istilah Astrology dan Alchemy

Gustav Jung dalam merancang teorinya juga banyak diilhami oleh filsafat timur dan barat sebagai hasil perjalanan pengalaman kejiwaannya. Jung juga banyak menerjemahkan mimpi-mimpinya dalam bentuk symbol-simbol dan menginterpretasikan gambar-gambar atau symbol-simbol yang menarik jiwanya secara individu. Misalnya bagaimana Jung menginterpretasikan sebuah ukiran kayu abad ke-16 yang berasal dari Jerman, yang disebut ‘Rosarium Philosophorum.
Rosarium philosophorum: ‘we are the metals, first nature and only source/the highest tincture of the Art is made through us. No fountain and no water has my like/ I make both rich and poor both whole and sick. For healthful can I be and poisonous’.
Jung menginterpretasikan bahwa Gambar ini akan langsung ke jantung simbolisme alkimia, hal itu merupakan upaya untuk melukiskan dasar karya / komposisi yang misterius.
Itu adalah karakteristik kuadrat quaternity, ditandai dengan empat bintang di empat penjuru. Ini adalah empat elemen. Diatas, ditengah (pusat), ada sebuah bintang kelima yang mewakili entitas kelima, yang berasal dari empat, the Quinta Essentia Cekungan dibawah ini adalah Hermeticum deferens, dimana tranformasi terjadi mengandung Mare Nostrum yang permanen yaitu air ilahi (Jung, dalam Case & Phillipson, 2004).
Dalam teorinya Jung juga bersandar pada ‘Annus Mundus Homo’ yang merupakan diagram astrology zaman renaissance (Case & Phillipson, 2004).
Annus-Mundus-Homo juga berdasarkan ilmu astrology dan alchemy. Pada lingkaran nampak jelas yang menggambarkan ‘zodiak’ dengan 4 unsur utama yaitu: Terra (earth), Aqua (water), aer (air), ignis (Fire).
Jung dalam teorinya terobsesi oleh symbol-simbol ini. Jung was intrigued, some content ‘obsessed’, by such quaternities not only in alchemical contexts but also in Buddhist mandalas and many other manifestations (McLynn dalam Case & Phillipson, 2004)
Dengan dasar hasil penelusuran inilah Peter Case dan Garry Phillipson mempertanyakan keilmiahan teori MBTI yang teorinya bersumber dari psikology Jung. Apakah MBTI yang kita sebut modern pantas dikatakan modern jika sumber atau dasar teorinya dari zaman pra modern? Dalam 16 tipologi MBTI, ditemukan bahwa formulasinya masih sangat kental dengan muatan alchemy (Case & Phillipson, 2004).
Astrology merupakan bagian dari ilmu-ilmu gaib yang tidak bisa diempiriskan. Maka secara ontology seperti yang ditawarkan Latour (dalam case & Phillipson, 2004) dalam tulisannya ‘We Have Never Been Modern’, membutuhkan program pengembalian sikap moral dan kebijaksanaan untuk menemukan kembali tentang modernitas.

MBTI dalam Analisa Paradigma Organisasi
Jauh sebelum adanya ilmu psikologi dan kedokteran, para philosof dan masyarakat telah membagi manusia kedalam bentuk- bentuk tipe kepribadian. Bahkan mereka telah menemukan bahwa setiap tipe kepribadian menampilkan satu pusat karakter atau cirri khusus yang mempengaruhi secara luas perilaku-perilaku manusia setiap hari. Menurut Naisaban Naisaban (2003) cirri-ciri tersebut akan berulang secara tetap pada pola perilaku manusia dalam setiap waktu, kebudayaan dan tempat.
Ide-ide kepribadian dalam MBTI merupakan bagian sociology masyarakat organisasi yang juga mengalami pengulangan-pengulangan. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan analisa organisasi berdasarkan teori Gibson Burrell dan Gareth Morgan (2000) dimensi sociology dan paradigm organisasi.
Burrell dan Morgan (2000) berpendapat bahwa ada 2 dimensi sociology yang dapat digunakan untuk melihat fenomena social yang terjadi, yaitu sociology of regulation dan sosiologi radical of change. Kedua dimensi tersebut dapat dianalisa dari segi subjektifitas dan objektifitasnya, melalui 4 paradigma organisasi yaitu: Fungsionalis, Interpretive, Radical Humanist dan Radical Strukturalis. Secara model dapat digambarkan sebagai berikut:

Radical
Humanist

Radical
Strukturalist

Interpretive
Functionalist

MBTI yang berasal dari teori psikologi Jung, dimana lahir dari penerjemahan symbol-simbol mimpi dan interpretasi Jung terhadap fenomena yang berkembang pada masyarakat sebelum dan pada saat itu (Case & Phillipson, 2004), maka secara kerangka analisa organisasi MBTI termasuk dimensi sociology of regulation. Teory yang banyak bersumber dalam subjektifitas seorang Jung dengan penafsiran-penafsiran phenomena yang ada maka MBTI lagir sebagai hasil analisa Jung dalam pendekatan subjektifitas dan paradigm interpretive.
Burrell & Morgan (2000) menggambarkan bahwa sociology of regulation dalam suatu masyarakat menekankan pada kesatuan, solidaritas dan kohesivitas sebagai dasar fenomena masyarakat. Sedangkan paradigm interpretive menekankan aspek partisipan dari pada aspek pengamat. Paradigm ini merupakan aliran langsung dari ‘german idealism’.
Secara ontology maka MBTI dapat dikatagorikan sebagai fenomena social yang kebenarannya merupakan produk persepsi dan intuisi dari individu dimana Jung sebagai orang yang terlibat langsung dalam fenomena social tersebut.
Dalam pandangan penulis MBTI hanya salah satu model penafsiran teori psikologi Jung. Mungkin saja MBTI akan ditinggalkan banyak orang, tetapi psikology Jung akan tetap menjadi referensi bagi pengembangan instrument-instrumen baru dalam pengembangan kepribadian dan organisasi. Psikologi Jung menjadi lebih unggul, karena dari masa kemasa dapat dikembangkan dalam interpretasi-interpretasi sesuai perkembangan masyarakat. Preferensi tipologi kepribadian Jung tetap menjadi bagian dari manajemen modern karena lebih visible dan adaptif pada perkembangan organisasi modern.
Selain MBTI, saat ini sudah banyak instrument-instrumen kepribadian yang dikembangkan dengan berlandaskan teory Jung tetapi memiliki interpretasi yang berbeda, seperti Pumping Talenta Model (2004) dan Stifin Personality (2009). Instrumen-instrumen tersebut jika diterima oleh masyarakat atau organisasi modern maka itu dapat dikatagorikan sebagai instrument modern.

ANALISA KRITIS GENEALOGICAL CRITIQUE OF MBTI

Secara ilmu kedokteran diakui bahwa tubuh manusia modern juga terdiri dari unsure tanah, air, api dan udara yang juga menjadi sumber teori Jung yang bersumber dari Empedocles. Secara ilmu kedokteran unsure tanah misalnya akan ditemukan pada tulang, otot dan usus. Cairan tubuh dari air, rasio dan mental manusia berasal dari api dan pendukung fungsi hidup berasal udara (Sarwono dalam Naisaban, 2003).
Jika dilihat secara genealogical bahwa unsure tubuh manusia modern pasti sama dengan unsure tubuh manusia pra-modern. Apakah ini akan menempatkan kita tidak pernah menjadi manusia modern?
Sampai hari ini diyakini pula bahwa unsure-unsur tersebut yang ada dalam tubuh manusia akan memperngaruhi perilaku manusia secara sociology maupun psikology. Jika demikian maka tentu perilaku manusia modern bersandar pada perilaku manusia pra-modern. Seperti misalnya yang dikemukakan oleh fisiolog Yunani Hippocrates yang berpendapat bahwa 4 cairan dalam tubuh manusia akan mempengaruhi perilaku manusia tersebut. Jika diteliti secara ilmu biologi tentu 4 cairan yang dimaksudkan tersebut juga ada pada manusia modern sekarang ini, yakni darah (sanguine), empedu kuning (koleric), empedu hitam (melancholic) dan lendir (phlegmatic).
Memang teori ini nampak primitive bagi ilmuwan modern, namun gagasan bahwa ada hubungan antara kepribadian manusia dan susunan fisiknya masih actual sampai sekarang (Zick dan Elton dalam Naisaban, 2003).
Kritik yang dilakukan Case dan Phillipson (2004) terhadap keberadaan MBTI yang diagungkan banyak orang sebagai manajemen modern tidak pantas disebut modern karena bersandar pada teori-teori zaman pra modern, dilakukan berdasarkan prinsip genealogical, yakni penelusuran silsilah asal usul teori MBTI tersebut.
Dengan menggunakan asumsi epistemology (Burrell & morgan, 2000) yakni bagaimana Jung memahami fenomena dan symbol-simbol dan membuatnya menjadi sebuah teori psikologi analitik dengan 4 preferensi dasar, yaitu thinking, feeling, intuiting dan sensing, maka dalam kerangka organisasi apa yang dilakukan Jung menjadi bagian dari proses filosofi keilmuwan dan teori organisasi yang wajar.
Persoalan bahwa MBTI tidak dapat diakui sebagai manajemen modern karena menggunakan referensi yang berasal dari teori psikology yang bersandar pada teori-teori zaman pra-modern, meskinya tidak menjadikan orang yang menggunakan MBTI sebagai katagori orang zaman pra-modern. Karena secara epistemology semua ilmu yang berkembang zaman hari ini bersumber dari ilmu yang berkembang pada zaman sebelumnya.
Yang paling mudah kita pahami adalah mode pakaian. Rancangan-rancangan mode zaman modern terinspirasi dari pakaian-pakaian atau kehidupan atau mode zaman sebelumnya. Apakah orang-orang yang menggunakan mode tersebut dikatagorikan sebagai orang zaman pra-modern? Bahwa banyak ide-ide manusia dalam keprofesiannya adalah hasil imajinasi dengan mengamati, meniru dan memodifikasi. Karena itulah suatu ilmu yang referensinya dari zaman pra-modern tidak bisa dikatagorikan bahwa orang-orang yang menggunakan ilmu tersebut termasuk kelompok pra-modern.
Hal yang paling mendasar menurut penulis adalah ‘apakah MBTI mampu menjawab persoalan masyarakat dan organisasi modern saat ini’ dan seberapa besar kalangan professional dan ilmuwan yang menerima keberadaannnya sebagai salah satu instrument pengembangan diri dan organisasi masyarakat modern tsb? Mungkin kajian ini yang perlu diperdalam sehingga akan memberi manfaat yang lebih bagi masyarakat, sebagai referensi saat memilih instrument yang ingin digunakan sebagai cara untuk mengembangkan diri dan karirnya.

KESIMPULAN
Beberapa hal yang dapat dijadikan kesimpulan dari makalah ini adalah:
• MBTI merupakan instrument pengembangan kepribadian berlandaskan theory psikologi Jung yang merupakan teori psikology sebagai hasil subjectifitas melalui interpretasi-interpretasi Jung terhadap fenomena dan symbol-simbol yang menjadi ketertarikan dan keyakinan Jung pada saat itu.
• Jung dalam menginterpretasikan fenomena dan symbol-simbol berlandaskan pada penemuan-penemuan astrology dan alchemy zaman sebelum masehi, empodecles, hipocrates dan peninggalan ukiran-ukiran kayu bangsa jerman.
• MBTI sebagai instrument kepribadian yang berdasarkan teori Jung masih dipertanyakan keberadaannya ditengah masyarakat modern (Case & Phillipson, 2004).
• Peter Case dan Garry Phillipson dalam memotret keberadaan MBTI menggunakan teori genealogical, yakni dengan menelusuri silsilah asal-usul MBTI itu sendiri.
• Dalam teori organisasi berdasarkan prinsip-prinsip Burrell dan Morgan (2000) tentang 2 dimensi dan 4 paradigm organisasi, maka MBTI secara ontology merupakan subjektifitas Jung terhadap fenomena dan interpretasi symbol-simbol yang ada dan diyakini oleh Jung. Teori jung ini termasuk dimensi sociology of regulation dengan paradigm interpretive
• Modern tidak modern manusia masih menjadi misteri. Apakah kita sdh modern atau belum, juga tidak bisa dijawab secara pasti. Karena orang di zaman modern tetap tergantung pada sejarah dan tokoh-tokoh zaman pra modern.
• Bila seseorang menggunakan MBTI sebagai instrument pengembangan kepribadianya, yang notabene merupakan instrument hasil dari pengembangan ilmu-ilmu zaman pra modern, tentu kita tidak bisa menyebutkan orang tersebut termasuk orang zaman pra-modern.
• Dibutuhkan penelitian lanjutan, yang menyangkut isi instrument dan kecocokannya pada masyarakat modern, sehingga akan memberikan manfaat dan peluang bagi masyarakat untuk memiliki dasar/pegangan saat ingin menggunakan instrument tersebut seperti MBTI.

DAFTAR PUSTAKA

Burrell. G & Morgan. G. 2000. Sociological Paradigm and Organisational Analysis, elemen of the sociology of corporate life. Ashgate Publishing Limited. England
Benfari, Robert, Ph.D. 1995. Memahami Gaya Manajemen Anda. PPM. Jakarta
Case, P & Phillipson, G. 2004. Astrology, Alchemy and Retro Organization Theory: An Astro Genealogical Critique of Myers Briggs Type Indicator. Jurnal Ilmiah. http://www.sagepublications.com
http://en.wikipedia.org/wiki/myers-Briggs_Type_Indicator . 2011
http://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/mbti-basics/. 2011
http://en.wikipedia.org/wiki/Genealogy.2011
Naisaban, L. 2003. Psikologi Jung; tipe kepribadian manusia dan rahasia sukses dalam hidup. Penerbit Grasindo Jakarta
Poniman, F. 2009. Stifin Personality; mengenal cetak biru hidup anda. Diterbitkan kalangan internal. Jakarta
Ramly, A.T. 2011. Pumping Talent; memahami diri memompa bakat. Pumping Publisher. Bogor
Robbins, S.P & Judge, TA (2009). Perilaku organisasi. Penerbit Salemba Empat. Jakarta
Senge, Peter. 1996. Disiplin Kelima; seni dan praktek dari organisasi pembelajar. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s